Mediamassa.id - Puasa sering diklaim sebagai latihan spiritual yang membentuk kedisiplinan, pengendalian diri, dan kepedulian sosial. Namun, apakah ibadah ini benar-benar membawa perubahan dalam kehidupan seseorang, ataukah hanya menjadi rutinitas tahunan yang kehilangan makna?
Secara ideal, puasa mengajarkan manusia untuk menahan hawa nafsu, merasakan penderitaan mereka yang kekurangan, dan meningkatkan empati. Namun, realitas menunjukkan kontradiksi yang mencolok.
Konsumsi saat berbuka justru meningkat, menciptakan pola konsumsi berlebihan yang bertentangan dengan nilai kesederhanaan.
Fenomena pasar yang lebih ramai dan harga bahan pokok yang melonjak menunjukkan bahwa puasa lebih sering dimaknai sebagai jeda sementara dari makan dan minum, bukan sebagai sarana refleksi diri yang mendalam.
Solidaritas sosial yang sering dikaitkan dengan puasa juga perlu dikritisi. Ramadan memang identik dengan peningkatan sedekah dan bantuan sosial, tetapi apakah kepedulian ini berlanjut setelah bulan suci berakhir?
Banyak orang merasa cukup dengan beramal dalam jangka waktu tertentu, tanpa komitmen nyata untuk membantu mereka yang membutuhkan secara berkelanjutan.
Jika puasa benar-benar mengajarkan empati, mengapa kesenjangan sosial masih terus melebar?
Selain itu, puasa juga kerap dimanfaatkan sebagai alat politik. Para pemimpin menunjukkan kesalehan mereka di hadapan publik, tetapi kebijakan mereka sering kali tidak mencerminkan nilai-nilai keadilan yang seharusnya menjadi inti dari ibadah ini.
Kesalehan simbolik ini tidak lebih dari upaya pencitraan, sementara rakyat tetap bergulat dengan ketidakadilan yang sistematis.
Di sisi lain, puasa juga menjadi bentuk perlawanan sosial dalam aksi mogok makan, membuktikan bahwa praktik ini memiliki potensi lebih dari sekadar ritual keagamaan.
Jika puasa benar-benar bertujuan untuk membentuk manusia yang lebih baik, maka perubahan itu seharusnya terlihat dalam tindakan sehari-hari.
Namun, jika setelah berpuasa seseorang tetap konsumtif, tetap egois, dan tetap mudah tersulut emosi, maka muncul pertanyaan: apakah puasa benar-benar membawa perubahan, atau hanya menjadi rutinitas yang kehilangan substansi?. (*)