Mediamassa.id – Dua atlet BMX Freestyle Kabupaten Garut, Haikal Ahmad Fauzan dan Aditya Pratama, bersama pelatihnya, Bayu Ningrat, memutuskan mundur dari keikutsertaan dalam Pekan Olahraga Provinsi (PORPROV) 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada November mendatang. Keputusan tersebut diambil di tengah persoalan dukungan anggaran dan keterbatasan biaya untuk menunjang persiapan atlet.
Bayu Ningrat, yang juga menjabat sebagai Ketua Asosiasi BMX Indonesia (ABI) Kabupaten Garut, mengatakan keputusan mundur tersebut merupakan kehendak atlet dan pelatih setelah menghadapi berbagai kendala dalam persiapan menuju PORPROV.

Melalui surat bernomor 12/ABI-GRT/IX/2026 tertanggal 30 September 2026, ABI Garut telah menyampaikan pengunduran diri kepada Ikatan Sport Sepeda Indonesia (ISSI) Kabupaten Garut. Surat tersebut juga telah dikirimkan kepada Ketua KONI Kabupaten Garut, Bidang Pembinaan dan Prestasi (Binpres) ISSI Kabupaten Garut, Sekretaris Umum ISSI Kabupaten Garut, serta Asisten Ketua DPRD Kabupaten Garut.
Namun, menurut Bayu, hingga Rabu (28/10/2026), pihaknya belum menerima tanggapan dari pihak-pihak yang dituju.
Insentif Terlambat, Biaya Latihan Mengandalkan Swadaya
Bayu menjelaskan, persoalan yang dihadapi bukan semata-mata keterbatasan waktu atau ketidakmampuan atlet mengikuti program latihan. Menurut dia, persiapan menuju kompetisi membutuhkan dukungan anggaran yang memadai dan berkelanjutan, tetapi kebutuhan dasar latihan BMX Freestyle belum terpenuhi secara optimal.
Salah satu persoalan yang disorot adalah insentif atlet dan pelatih yang disebut hanya sebesar Rp300.000 per orang. Selain nominal yang dinilai terbatas, pencairan insentif tersebut juga mengalami keterlambatan.
“Uang insentif turun lambat. Angkanya hanya Rp300 ribu per atlet dan pelatih, itu pun terlambat turunnya,” ungkap Bayu.
Ia menambahkan, kebutuhan latihan tidak berhenti pada pemberian insentif. Atlet BMX Freestyle juga membutuhkan biaya operasional untuk menjalani latihan secara rutin, membeli suplemen penunjang, serta melakukan perawatan sepeda yang menjadi perlengkapan utama dalam olahraga tersebut.
Menurut Bayu, tidak tersedianya biaya latihan dan kebutuhan pendukung itu menjadi kendala serius bagi atlet dalam mempersiapkan diri menghadapi kompetisi tingkat provinsi.
“Biaya latihan tidak ada. Biaya suplemen dan perawatan sepeda juga tidak ada,” ujarnya.
Bayu mengungkapkan, selama menjalani persiapan, kegiatan latihan terpaksa mengandalkan dana swadaya dari atlet dan pelatih. Keterbatasan dukungan biaya bahkan membuat tim harus menyewa peralatan dari provinsi lain demi menunjang kebutuhan latihan BMX Freestyle.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persiapan atlet belum sepenuhnya ditopang dukungan anggaran yang memadai. Padahal, BMX Freestyle membutuhkan peralatan khusus, pemeliharaan sepeda secara berkala, serta fasilitas latihan yang mendukung keselamatan dan peningkatan kemampuan atlet.
Ketika kebutuhan dasar persiapan masih harus ditanggung secara mandiri, atlet dan pelatih menghadapi beban tambahan di luar tuntutan teknis latihan. Situasi ini menjadi salah satu persoalan yang melatarbelakangi keputusan mereka untuk mundur dari PORPROV 2026.
Janji Dukungan Belum Menyelesaikan Persoalan
Bayu juga menyebut sempat ada janji pemberian dana untuk kebutuhan latihan serta dukungan biaya yang sebelumnya masih menjadi persoalan dalam keberangkatan atlet ke kejuaraan nasional. Namun, menurut keterangannya, dukungan tersebut belum menyelesaikan kendala yang dihadapi tim dalam persiapan PORPROV.
Bagi Bayu, kesiapan atlet tidak cukup hanya diukur dari kemampuan teknis dan target prestasi. Ketersediaan fasilitas, biaya latihan, perawatan perlengkapan, serta dukungan operasional merupakan bagian penting yang harus dipenuhi secara konsisten.
Situasi ini memunculkan pertanyaan mengenai keseriusan dukungan terhadap pembinaan olahraga, khususnya cabang BMX Freestyle di Kabupaten Garut. Target prestasi membutuhkan komitmen bersama, bukan hanya tuntutan kepada atlet dan pelatih untuk berlatih dan bertanding.
Pengunduran Diri atas Keputusan Atlet dan Pelatih
Dalam surat yang disampaikan kepada ISSI Kabupaten Garut, ABI Garut sebelumnya menyebut keterbatasan waktu dan kondisi yang menyebabkan atlet tidak dapat mengikuti program pelatihan secara optimal dan konsisten sesuai tuntutan persiapan PORPROV.
Namun, berdasarkan penjelasan Bayu, keputusan tersebut juga tidak dapat dilepaskan dari persoalan dukungan terhadap kebutuhan latihan dan operasional atlet.
Bayu menegaskan bahwa pengunduran diri itu merupakan keputusan atlet dan pelatih sendiri, bukan karena adanya perintah dari pihak lain.
Dengan mundurnya Haikal Ahmad Fauzan dan Aditya Pratama, kesiapan BMX Freestyle Kabupaten Garut untuk menghadapi PORPROV 2026 pun menjadi perhatian. Terlebih, keputusan tersebut disampaikan menjelang pelaksanaan kompetisi yang dijadwalkan berlangsung pada November.
Hingga berita ini disusun, Bayu menyatakan belum menerima tanggapan dari pihak-pihak yang telah dikirimi surat pengunduran diri. Konfirmasi kepada ISSI dan KONI Kabupaten Garut diperlukan untuk memperoleh penjelasan mengenai dukungan anggaran, pencairan insentif, serta langkah pembinaan BMX Freestyle menjelang PORPROV 2026.
Pembinaan olahraga tidak cukup bertumpu pada target medali. Dukungan anggaran yang tepat waktu, pemenuhan kebutuhan latihan, fasilitas yang memadai, dan komunikasi yang baik antara atlet, pelatih, serta pemangku kepentingan merupakan bagian penting dalam membangun prestasi olahraga daerah. (*)