• 29 Aug, 2026

Joy T.U.T.A.B: Vakum 16 Tahun, Kini Kembali Mengguncang Panggung

Joy T.U.T.A.B: Vakum 16 Tahun, Kini Kembali Mengguncang Panggung

Mediamassa.id - Perjalanan sebuah band hampir selalu diwarnai pergantian personel. Ada yang datang, ada yang pergi, ada pula yang kembali setelah sekian lama. Di tubuh T.U.T.A.B, kisah itu lekat dengan sosok Joy, personel yang pernah menjadi bagian dari formasi awal, kemudian vakum selama 16 tahun, sebelum akhirnya kembali bergabung dan melanjutkan perjalanan band punk rock asal Garut tersebut.

Bagi Joy, T.U.T.A.B bukan sekadar tempat bermain musik. Band yang berdiri pada 1996 itu menjadi bagian dari perjalanan hidupnya sejak masih remaja. Bersama Bono, Emoh, dan personel lainnya, ia ikut merasakan bagaimana skena punk Garut tumbuh dari ruang-ruang latihan sederhana, gigs komunitas, hingga jaringan pertemanan yang terus terjaga sampai sekarang.

Pada masa awal T.U.T.A.B, Joy berada di balik drum. Dari posisinya itu, ia ikut membangun karakter musik band yang dikenal dengan tempo cepat, energi liar, dan lirik-lirik yang lahir dari realitas sosial di sekitarnya.

Saat itu, tidak ada yang berpikir bahwa T.U.T.A.B akan bertahan hingga hampir tiga dekade.

Semua berjalan begitu saja.

Latihan ketika ada waktu, manggung jika ada undangan, lalu kembali berkumpul di tongkrongan yang sama untuk membicarakan lagu berikutnya atau sekadar berbagi cerita.

"Zaman itu kami main karena memang senang. Belum kepikiran soal macam-macam. Yang penting bisa kumpul, latihan, terus manggung," kenang Joy.

Namun perjalanan hidup setiap orang tidak selalu berjalan beriringan dengan perjalanan sebuah band.

Pada 2002, Joy memutuskan untuk vakum dari T.U.T.A.B. Keputusan itu bukan karena konflik atau perpecahan, melainkan karena tuntutan kehidupan yang membuatnya harus mengambil jalan berbeda.

Selama kurang lebih 16 tahun, ia tidak lagi aktif bersama T.U.T.A.B.

Meski begitu, hubungan dengan para personel tidak pernah benar-benar terputus.

Pertemanan tetap berjalan.

Komunikasi tetap terjalin.

Dan setiap kali T.U.T.A.B tampil, Joy masih mengikuti perkembangan band yang pernah menjadi bagian penting dalam hidupnya.

"Saya memang nggak main lagi waktu itu, tapi hubungan sama teman-teman tetap baik. Kami masih sering ketemu. Jadi sebenarnya nggak pernah benar-benar jauh," katanya.

Memasuki 2018, obrolan-obrolan santai yang semula hanya terjadi di tongkrongan mulai berlanjut ke ruang latihan.

Tidak ada proses yang rumit.

Tidak ada pembicaraan resmi.

Joy datang, ikut latihan, lalu perlahan kembali menjadi bagian dari T.U.T.A.B.

"Awalnya cuma iseng latihan lagi. Lama-lama kok rasanya masih sama. Chemistry-nya masih dapat. Akhirnya ya jalan lagi sampai sekarang," ujarnya.

Kembalinya Joy disambut hangat oleh personel lain.

Bukan hanya karena ia pernah menjadi bagian dari sejarah awal band, tetapi juga karena kehadirannya kembali melengkapi ikatan yang sejak lama terbangun di antara mereka.

Namun waktu tentu membawa perubahan.

Jika dulu Joy dikenal sebagai drummer utama, kini perannya berkembang mengikuti kebutuhan band.

Saat ini, posisi drum lebih banyak diisi Roy. Joy tetap sesekali berada di belakang perangkat drum, terutama ketika T.U.T.A.B membawakan lagu-lagu lama yang lahir pada periode awal band.

Di luar itu, ia lebih sering berdiri di depan panggung, membantu Bono mengisi lini vokal.

Perubahan tersebut bukan sesuatu yang direncanakan sejak awal.

Semuanya berlangsung secara alami.

Terlebih, Joy mengakui dirinya sudah tidak sekuat dulu untuk memainkan seluruh materi baru T.U.T.A.B yang memiliki tempo lebih cepat.

Sambil tertawa, ia mengaku usia menjadi salah satu alasannya.

"Faktor umur, lah. Kalau lagu-lagu baru T.U.T.A.B yang beat-nya makin ngebut, saya sudah mulai ngos-ngosan ngikutinnya. Jadi sekarang berbagi tugas sama Roy di drum. Paling yang masih nyaman saya bawain itu lagu-lagu awal T.U.T.A.B, zaman saya masih aktif dulu. Itu juga kadang sambil ngingetin lutut supaya jangan protes," candanya.

Candaan itu langsung mengundang tawa personel lain.

Namun di balik kelakar tersebut, ada kenyataan yang diterima Joy dengan santai.

Ia tidak lagi mempersoalkan harus berada di posisi mana.

Baginya, yang lebih penting adalah tetap menjadi bagian dari perjalanan T.U.T.A.B.

"Sekarang saya lebih sering bantu Bono di vokal. Yang penting tetap bisa kontribusi buat band. Mau di belakang drum atau pegang mikrofon, buat saya nggak ada bedanya."

Perubahan peran itu justru memberi warna baru bagi penampilan T.U.T.A.B.

Di atas panggung, Joy dan Bono saling berbagi energi. Sesekali mereka bernyanyi bergantian, saling mengisi, dan membangun komunikasi dengan penonton yang membuat suasana pertunjukan terasa lebih hidup.

Bagi Joy, yang membuatnya kembali bukan semata urusan musik.

Ada hal lain yang jauh lebih penting.

"Yang bikin saya balik sebenarnya teman-temannya. Persaudaraannya. Dari dulu sampai sekarang itu yang nggak berubah."

Kalimat tersebut menjadi gambaran sederhana tentang bagaimana kultur bawah tanah bertahan selama ini.

Di luar lagu, di luar panggung, bahkan di luar identitas punk itu sendiri, selalu ada hubungan antarmanusia yang menjadi fondasinya.

Joy melihat sendiri bagaimana skena Garut berubah dari masa ke masa.

Ia mengalami era ketika rekaman demo masih dilakukan dengan peralatan seadanya, poster acara dicetak hitam putih, hingga masa ketika promosi cukup dilakukan melalui media sosial.

Menurutnya, perkembangan itu merupakan sesuatu yang wajar.

Namun ia berharap generasi baru tidak kehilangan nilai yang sejak dulu menjadi kekuatan komunitas punk.

"Sekarang akses lebih gampang. Bikin lagu gampang, promosi juga gampang. Tapi jangan sampai lupa sama akar. Yang bikin skena bisa bertahan itu bukan cuma band, tapi rasa saling mendukung."

Kini, delapan tahun setelah kembali bergabung, Joy kembali menjadi bagian penting dari T.U.T.A.B.

Ia memang tidak lagi memainkan semua lagu dari balik drum seperti dua puluh tahun lalu.

Tetapi semangat yang dibawanya tetap sama.

Selama masih ada ruang latihan untuk berkumpul, panggung untuk bermain, dan teman-teman yang terus menjaga semangat itu bersama, Joy merasa perjalanan T.U.T.A.B masih jauh dari kata selesai.

"Selama kami masih bisa kumpul dan main bareng, saya rasa T.U.T.A.B akan terus hidup. Itu yang paling penting."

Bagi Joy, kembali ke T.U.T.A.B bukan sekadar reuni dengan band lama.

Ini adalah melanjutkan perjalanan yang sempat tertunda.

Dan setelah 16 tahun meninggalkan panggung bersama T.U.T.A.B, ia membuktikan bahwa ada ikatan yang memang tidak pernah benar-benar putus. (*)

Sumber:
Wawancara dan obrolan komunitas bersama Joy T.U.T.A.B, Garut, Mei 2026. Data perjalanan T.U.T.A.B sebagai band punk asal Garut sejak 1996 turut disebut dalam arsip podcast Pustaka Musik.