Mediamassa.id - Ketika Richard Dawkins menulis The Selfish Gene pada 1976, ia tidak sedang menjelaskan mengapa sebagian manusia kaya dan sebagian lainnya miskin. Dawkins sedang berbicara tentang evolusi dan bagaimana gen mempertahankan keberadaannya dengan cara diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Istilah "egois" dalam bukunya bukan berarti gen memiliki kesadaran atau sifat serakah, melainkan sebuah cara untuk menjelaskan bahwa dalam proses evolusi, gen yang berhasil memperbanyak dirinya akan lebih mungkin bertahan.
Manusia, dalam gambaran Dawkins, dapat dilihat sebagai semacam kendaraan bagi gen untuk terus berpindah ke generasi berikutnya. Tetapi manusia tidak hanya mewariskan gen. Kita juga mewariskan rumah, tanah, uang, pendidikan, kebiasaan, pengetahuan, hubungan sosial, nama keluarga dan posisi dalam masyarakat.
Di sinilah pembicaraan tentang gen menjadi menarik ketika kita keluar dari wilayah biologi dan masuk ke wilayah sosial. Kalau Dawkins membantu kita memahami bagaimana sesuatu dapat bertahan melalui pewarisan biologis, Karl Marx membantu kita memahami bagaimana kekayaan dan posisi kelas dapat bertahan melalui kepemilikan dan struktur ekonomi, sementara Pierre Bourdieu membantu kita melihat bahwa yang diwariskan keluarga bukan hanya uang dan benda, tetapi juga pendidikan, selera, cara berbicara, kebiasaan, jaringan pergaulan dan kemampuan memahami aturan permainan sosial.
Seorang anak dari keluarga kaya tidak lahir dengan gen kekayaan. DNA tidak mengenal rekening bank, sertifikat tanah atau kepemilikan perusahaan. Namun anak tersebut bisa lahir di rumah yang memiliki aset, mendapatkan pendidikan yang lebih baik, tumbuh dengan akses terhadap buku dan teknologi, mengenal banyak orang yang dapat membuka peluang, dan memiliki keluarga yang mampu memberikan bantuan ketika ia gagal. Kekayaan itu tidak berada di dalam darahnya, tetapi sudah berada di sekelilingnya sejak ia lahir.
Sebaliknya, seorang anak dari keluarga miskin mungkin memiliki kemampuan biologis yang sama, bahkan bisa memiliki kecerdasan dan bakat yang sangat baik, tetapi ia mungkin tumbuh dalam kondisi yang membuat setiap langkah menjadi lebih berat. Ia bisa saja harus membantu orang tua bekerja, bersekolah dengan fasilitas terbatas, hidup tanpa akses kesehatan yang memadai, atau tidak memiliki modal ketika ingin membuka usaha. Jika gagal, ia tidak memiliki banyak ruang untuk mencoba lagi.
Di sinilah pemikiran Karl Marx menjadi penting. Bagi Marx, masyarakat kapitalis tidak hanya terdiri dari individu-individu yang bebas mengejar keberhasilan, tetapi juga terdiri dari kelas-kelas yang memiliki hubungan berbeda terhadap alat produksi. Dalam bahasa sederhana, ada orang yang memiliki modal, tanah, perusahaan dan alat produksi, sementara ada orang yang terutama memiliki tenaga untuk dijual melalui pekerjaan.
Seorang pemilik perusahaan dan seorang pekerja mungkin sama-sama bekerja keras, tetapi mereka tidak berdiri pada posisi ekonomi yang sama karena yang satu memiliki modal dan yang lain bergantung pada upah. Perbedaan ini menjadi semakin penting ketika kita melihat bagaimana kehidupan berlangsung lintas generasi.
Pemilik modal dapat mewariskan perusahaan kepada anaknya, tanah dapat diwariskan, rumah dapat diwariskan, tabungan dapat menjadi modal baru, dan keuntungan dari modal dapat digunakan untuk mengumpulkan lebih banyak modal. Sementara itu, keluarga pekerja mungkin hanya mampu mewariskan keterampilan, pendidikan dan tenaga kerja yang mereka miliki.
Karena itu, ketika seorang anak dari keluarga kaya kemudian menjadi kaya, kita tidak cukup menjelaskan keberhasilannya dengan mengatakan bahwa ia bekerja keras. Bisa saja ia memang bekerja keras, tetapi ia bekerja dengan modal yang sudah tersedia sebelum ia lahir. Ia tidak memulai dari titik yang sama dengan anak yang keluarganya tidak memiliki aset.
Bahkan kemampuan untuk gagal pun tidak terbagi secara merata. Anak dari keluarga kaya bisa gagal membuka bisnis dan kemudian mencoba lagi karena masih memiliki rumah untuk pulang, keluarga yang dapat membantu, aset yang bisa dijual atau jaringan yang dapat digunakan.
Bagi keluarga miskin, kegagalan bisa berarti kehilangan rumah, berhenti sekolah, menumpuk utang atau tidak mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Di sinilah Pierre Bourdieu memperluas pembicaraan Marx. Bourdieu menunjukkan bahwa modal tidak hanya berbentuk uang. Ada modal ekonomi berupa kekayaan dan aset, ada modal budaya berupa pendidikan, pengetahuan, bahasa, cara berpikir dan selera, serta ada modal sosial berupa hubungan dan jaringan yang dapat membantu seseorang mendapatkan kesempatan.
Seorang anak dari keluarga berada mungkin sejak kecil terbiasa berbicara dengan bahasa yang digunakan di sekolah dan lingkungan profesional, membaca buku yang sama dengan orang-orang yang kelak menjadi pengambil keputusan, mengenal profesi tertentu sebagai sesuatu yang wajar, dan memiliki orang tua yang memahami bagaimana sistem pendidikan bekerja.
Semua itu tidak tercatat dalam rekening bank, tetapi memiliki nilai yang sangat besar ketika seseorang memasuki kehidupan sosial.
Anak dari keluarga miskin mungkin sama cerdasnya, tetapi tidak selalu memiliki modal budaya dan sosial yang sama. Ia mungkin tidak tahu bagaimana cara masuk ke ruang-ruang tertentu, tidak memiliki orang yang dapat memberikan rekomendasi, atau tidak memiliki keberanian untuk mengambil kesempatan karena sejak kecil hidup mengajarinya bahwa kesalahan memiliki konsekuensi yang mahal.
Inilah yang disebut Bourdieu sebagai proses reproduksi sosial: posisi seseorang dalam masyarakat cenderung dapat dipertahankan dari satu generasi ke generasi berikutnya bukan hanya karena uang, tetapi karena berbagai jenis modal yang saling memperkuat.
Kekayaan membeli pendidikan, pendidikan membuka jaringan, jaringan menghasilkan kesempatan, kesempatan menghasilkan pendapatan, pendapatan kemudian berubah kembali menjadi kekayaan.
Sebaliknya, keterbatasan ekonomi dapat menghasilkan pendidikan yang terbatas, pendidikan yang terbatas membatasi kesempatan, kesempatan yang sedikit menghasilkan pendapatan yang rendah, dan pendapatan yang rendah membuat seseorang sulit mengumpulkan modal. Lingkaran itu kemudian berulang pada generasi berikutnya.
Karena itu, kemiskinan tidak selalu diwariskan melalui darah dan kekayaan tidak diwariskan melalui DNA, tetapi keduanya dapat diwariskan melalui struktur kehidupan.
Kita lahir membawa gen, tetapi kita juga lahir ke dalam keluarga, kelas sosial dan lingkungan tertentu. Kita tidak memilih orang tua kita, tidak memilih apakah lahir di rumah yang memiliki tanah atau rumah kontrakan, tidak memilih apakah sejak kecil memiliki akses ke sekolah yang bagus atau harus bekerja untuk membantu keluarga.
Namun semua keadaan awal tersebut dapat memengaruhi pilihan yang tersedia bagi kita sepanjang hidup.
Inilah sebabnya gagasan tentang kesuksesan sebagai hasil kerja keras individu perlu dibaca dengan lebih hati-hati. Kerja keras memang penting, tetapi kerja keras tidak pernah bekerja di ruang kosong.
Ada orang yang bekerja keras dengan modal, pendidikan, jaringan dan keamanan yang cukup, sementara orang lain bekerja keras hanya untuk bertahan hidup sampai akhir bulan. Keduanya sama-sama bekerja, tetapi titik berangkat dan risiko yang mereka tanggung berbeda.
Maka, ketika melihat orang kaya dan orang miskin, persoalan yang lebih penting bukanlah mencari "gen kaya" atau "gen miskin", melainkan melihat apa yang diwariskan, siapa yang memiliki modal, siapa yang memiliki akses, siapa yang memiliki jaringan, siapa yang memiliki kesempatan untuk gagal, dan siapa yang sejak awal tidak memiliki pilihan selain terus bertahan.
Dawkins membantu kita memahami bagaimana gen diwariskan secara biologis, Marx membantu kita memahami bagaimana kepemilikan dan hubungan kelas membentuk kehidupan ekonomi, sementara Bourdieu membantu kita melihat bagaimana uang, pendidikan, kebiasaan dan jaringan sosial bekerja bersama-sama dalam mempertahankan posisi seseorang di dalam masyarakat.
Ketiganya tentu tidak sedang mengatakan hal yang sama dan tidak boleh dicampuradukkan sebagai satu teori. Tetapi ketika digunakan untuk membaca dunia secara hati-hati, kita dapat melihat satu kenyataan yang sederhana: manusia memang mewariskan gen, tetapi masyarakat juga mewariskan kekayaan, pengetahuan, jaringan dan posisi sosial.
Gen membuat kita membawa sebagian dari orang tua kita di dalam tubuh, sementara struktur sosial membuat kita membawa sebagian dari posisi orang tua kita ke dalam kehidupan.
Karena itu, orang tidak menjadi kaya atau miskin karena DNA mereka. Tetapi seseorang bisa lahir ke dalam keadaan yang membuat jalan menuju kekayaan jauh lebih terbuka bagi dirinya, sementara orang lain harus berjuang lebih keras hanya untuk mencapai titik awal yang sama.
Yang terlihat seperti keberhasilan individu kadang-kadang merupakan hasil dari akumulasi keuntungan yang berlangsung jauh sebelum individu tersebut lahir, dan yang terlihat seperti kegagalan individu kadang-kadang merupakan hasil dari beban sosial yang juga sudah ada sebelum ia dilahirkan. (*)