Mediamassa.id — Ada sepeda yang dibeli untuk dipakai. Ada pula sepeda yang dicari karena ceritanya.
Bagi Teddy Asron dan kawan-kawan di BMX Old School Garut, BMX lawas berada di antara keduanya. Sepeda tetap dikayuh, tetapi usia, bentuk, komponen, dan jejak zamannya menjadi bagian yang tidak kalah penting.
Komunitas yang menggunakan nama Old School BMX (OS) itu berdiri pada 2021. Di tengah berkembangnya sepeda modern dengan teknologi dan desain yang terus berkembang, mereka justru memilih merawat BMX keluaran era lama.
“OS itu kepanjangan dari Old School BMX,” kata Teddy Asron, Ketua sekaligus pendiri BMX Old School Garut.

Menurut Teddy, patokan yang digunakan komunitasnya untuk kategori old school adalah BMX keluaran sekitar 1979 hingga 1990. Setelah 1991, menurut pembagian yang mereka gunakan, BMX mulai masuk periode early dan mid school, sementara produksi sekitar 2000-an hingga sekarang lebih dekat dengan kategori new school.
Patokan tersebut memang tidak sepenuhnya tunggal dalam sejarah BMX. Namun bagi BMX Old School Garut, rentang 1979–1990 menjadi bagian dari identitas komunitas dan jenis sepeda yang mereka rawat.
Table of contents [Show]
Ketika BMX Menjadi Bahasa Anak Muda
Secara global, BMX tumbuh dari budaya balap sepeda yang kemudian berkembang menjadi berbagai bentuk permainan. Balap BMX berkembang pesat pada dekade 1970-an, sementara freestyle semakin populer pada awal 1980-an.

Di Indonesia, BMX kemudian ikut menjadi bagian dari budaya anak muda. Perkembangannya pada akhir 1970-an dan dekade 1980-an melahirkan komunitas-komunitas BMX di berbagai daerah.
Bandung menjadi salah satu kota yang memiliki jejak kuat dalam perkembangan kultur BMX. Klub-klub bermunculan dan aktivitas freestyle menjadi bagian dari kehidupan anak muda Kota Kembang pada era tersebut.
Pengaruh kultur BMX kemudian ikut menyebar ke berbagai daerah Jawa Barat, termasuk Garut.
Jejak komunitas BMX di Garut sendiri telah berlangsung cukup lama. Dalam perkembangannya, muncul berbagai kelompok dan komunitas dengan karakter serta generasi yang berbeda.
Di tengah perkembangan tersebut, BMX Old School Garut hadir dengan pendekatan yang sedikit berbeda: mereka memilih membawa kembali BMX dari masa lalu ke jalanan hari ini.
Sepeda Tua, Cerita yang Tidak Tua
Teddy mengatakan, meskipun menggunakan identitas Old School, komunitasnya tidak membatasi anggotanya berdasarkan gaya permainan.

Di antara sepeda yang dimiliki anggota terdapat BMX dengan karakter freestyle maupun race.
“Kalau di OS kita cenderung ke tahun tua. Ada juga model-model freestyle, ada race. Boleh gabung,” ujarnya.
Pembagian antara race dan freestyle sendiri merupakan bagian dari perjalanan panjang BMX. Race menekankan kecepatan dan kemampuan melintasi lintasan, sedangkan freestyle lebih menonjolkan trik dan atraksi.
Karena itu, sebuah BMX lawas tidak selalu berarti satu jenis permainan.
Sebuah frame tua bisa menjadi sepeda race. Bisa pula menjadi freestyle. Yang menyatukannya adalah usia dan karakter sepeda tersebut.
Bagi penggemar old school, komponen asli, desain frame, fork, wheelset hingga merek tertentu justru memiliki nilai tersendiri.
Di sinilah nostalgia berubah menjadi kultur.
Sepeda yang dahulu mungkin hanya dianggap sebagai kendaraan anak-anak, puluhan tahun kemudian dapat menjadi benda koleksi, objek restorasi sekaligus media untuk menghubungkan generasi.
Dari Masjid Agung hingga Jalanan Garut
Saat ini BMX Old School Garut memiliki sekitar 20 anggota.
Mereka tidak hanya menyimpan sepeda di rumah atau membicarakannya di ruang digital. Sepeda-sepeda tersebut tetap dibawa keluar dan dikayuh bersama.
Teddy mengatakan, para anggota biasa berkumpul pada malam Minggu di Masjid Agung Garut, kawasan Alun-Alun Garut.

Kawasan tersebut memang menjadi salah satu ruang publik paling penting di pusat Kota Garut. Masjid Agung berada di sisi barat Alun-Alun Garut dan kini terhubung langsung dengan kawasan alun-alun.
Di tempat itu, sepeda bukan sekadar alat transportasi. Pertemuan menjadi ruang bertukar cerita, melihat sepeda anggota lain, membicarakan komponen, hingga membangun kembali hubungan antarpenggemar BMX.
Mereka juga memiliki agenda night ride yang biasanya dilakukan satu bulan sekali dan dikhususkan bagi anggota.
“Night ride itu biasanya satu bulan sekali, khusus untuk member,” kata Teddy.
Aktivitas tersebut membuat BMX old school tidak berhenti sebagai benda koleksi. Sepeda-sepeda tua itu tetap menjalankan fungsi utamanya: bergerak dan menemani pemiliknya menyusuri jalan.
Bertemu dengan Komunitas Lain
Dalam perkembangannya, BMX Old School Garut juga membuka diri terhadap ruang pergaulan yang lebih luas.
Salah satunya melalui Critical Mass Garut, kegiatan bersepeda yang mempertemukan berbagai jenis sepeda dan komunitas dalam satu perjalanan.

BMX old school pun berada dalam satu rombongan dengan berbagai jenis sepeda lainnya.
Bagi Teddy, pertemuan semacam itu menjadi bagian dari kehidupan komunitas. Sebab, kultur sepeda tidak hanya tumbuh dari jenis sepeda yang digunakan, tetapi juga dari orang-orang yang berada di baliknya.
Berdiri di Tengah Pandemi
Ada cerita menarik di balik kelahiran BMX Old School Garut.
Komunitas ini justru berdiri pada 2021, ketika pandemi COVID-19 masih memengaruhi banyak aktivitas masyarakat.
Dari ketertarikan terhadap BMX lawas, kemudian terbentuk ruang berkumpul yang bertahan hingga sekarang.
Lima tahun berjalan sejak berdiri, jumlah anggotanya memang belum besar. Namun Teddy tidak melihat jumlah sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan komunitas.
Ia lebih berharap hubungan antaranggota tetap terjaga dan komunitas semakin solid.
“Harapannya semakin solid, membernya bertambah,” ujar Teddy.

Harapan itu terdengar sederhana. Tetapi menjaga komunitas yang berbasis pada benda-benda lama bukan pekerjaan yang selalu sederhana.
Sepeda lawas membutuhkan perhatian. Komponen tertentu semakin sulit ditemukan. Sebagian harus dicari dari kolektor lain, diperbaiki, direstorasi, atau dipertahankan dengan kondisi seadanya agar karakter aslinya tidak hilang.
Karena itu, merawat BMX old school pada akhirnya bukan hanya merawat sepeda.
Ia juga merawat pengetahuan.
Tentang model. Tentang komponen. Tentang merek. Tentang trik. Tentang sejarah. Dan yang tidak kalah penting, tentang orang-orang yang pernah mengendarainya.
Membawa Masa Lalu Tetap Berjalan
BMX Old School Garut hadir di tengah perkembangan kultur sepeda Garut yang semakin beragam.
Di satu sisi ada komunitas yang bergerak dalam BMX modern dan olahraga ekstrem. Di sisi lain ada komunitas yang memilih sepeda klasik, sepeda tua, hingga berbagai bentuk kultur sepeda lainnya.

BMX Old School mengambil ruangnya sendiri.
Mereka membawa sepeda dari masa lalu ke ruang bersepeda masa kini.
Sepeda yang mungkin dahulu menjadi bagian dari masa muda generasi 1980-an kini kembali muncul di jalanan Garut. Sebagian pengendaranya mungkin bukan lagi anak-anak yang sedang belajar melakukan wheelie, melainkan orang dewasa yang sedang menghidupkan kembali kenangan.
Old school, dengan demikian, bukan berarti berhenti pada masa lalu.

Ia adalah cara untuk membawa masa lalu tetap berjalan.
Dan selama BMX-BMX tua itu masih dikayuh, cerita tentang kultur yang pernah tumbuh bersama generasi sebelumnya belum benar-benar selesai.
Di Garut, Teddy dan sekitar dua puluh anggota BMX Old School memilih untuk terus mengayuhnya. (*)