• 29 Aug, 2026

Critical Mass Bergerak di Sejumlah Kota, Pesepeda Hadir Bersama di Ruang Jalan

Critical Mass Bergerak di Sejumlah Kota, Pesepeda Hadir Bersama di Ruang Jalan

Mediamassa.id — Jumat malam, 28 Agustus 2026, menjadi momentum bergeraknya para pesepeda dalam gelaran Critical Mass di sejumlah kota di Indonesia. Dari Jakarta, Bekasi, Bandung, Gorontalo hingga Garut, pesepeda berkumpul dan melintasi jalan-jalan kota dengan karakter kegiatan serta rute yang berbeda.

Kesamaan pelaksanaan tersebut bukan berarti Critical Mass merupakan organisasi dengan satu kepengurusan nasional. Justru salah satu karakter penting gerakan ini adalah sifatnya yang tumbuh secara organik. Para pesepeda di masing-masing kota dapat mengatur pertemuan, rute dan teknis kegiatan berdasarkan kondisi setempat.

Critical Mass dikenal sebagai gerakan bersepeda bersama yang menjadikan ruang jalan sebagai bagian penting dari pesan yang dibawanya. Pesepeda hadir bukan sekadar untuk berolahraga, tetapi juga untuk menunjukkan bahwa sepeda merupakan salah satu moda yang menggunakan ruang lalu lintas.

Di Jakarta, misalnya, Kumparan melaporkan ratusan pesepeda mengikuti Critical Mass pada Jumat malam. Mereka berkumpul di kawasan Gelora Bung Karno sebelum bergerak melalui Jalan Jenderal Sudirman, Patal Senayan dan Kebayoran Lama hingga kawasan Blok M. Menurut Kumparan, kegiatan tersebut mengutamakan kebersamaan para pengguna sepeda di jalan raya.

Sementara itu, Infobekasi.co.id mencatat Critical Mass di Bekasi sebagai kegiatan yang rutin dilakukan pada Jumat malam di akhir bulan. Rutenya membawa peserta dari kawasan GOR menuju Alun-Alun Bekasi. Media tersebut menyebut kegiatan Critical Mass sebagai bagian dari kampanye penggunaan sepeda sebagai moda transportasi yang lebih ramah lingkungan.

Di Gorontalo, pelaksanaan Indonesia Critical Mass memiliki karakter yang lebih berbasis pertemuan antarkomunitas. RRI Gorontalo melaporkan kegiatan tersebut mempertemukan 11 komunitas sepeda dari berbagai daerah di Gorontalo dan menjadi bagian dari rangkaian Semarak RRI Fest 2026.

Pegiat Sepeda Gorontalo Rahmat Jaya Katili, sebagaimana diberitakan RRI pada 28 Agustus 2026, mengatakan Indonesia Critical Mass dapat menjadi wadah untuk mengkampanyekan penggunaan sepeda kepada masyarakat sekaligus meningkatkan kesadaran mengenai keberadaan pesepeda di jalan raya.

“Pengguna jalan ini bukan cuma kendaraan bermotor, sepeda juga itu memang pengguna jalan,” ujar Rahmat kepada RRI. Ia juga menekankan bahwa sepeda tidak hanya digunakan sebagai alat olahraga, tetapi juga dapat menjadi alat transportasi.

Pernyataan tersebut memperlihatkan salah satu gagasan utama yang dibawa Critical Mass: pesepeda bukan sekadar pengguna jalan ketika sedang berolahraga, tetapi merupakan bagian dari lalu lintas.

Tidak Ada Satu Bentuk Critical Mass

Perbedaan karakter pelaksanaan di berbagai kota merupakan hal yang wajar dalam Critical Mass.

Di satu tempat kegiatan dapat melibatkan komunitas-komunitas sepeda. Di tempat lain, pesepeda individu dapat datang dan bergabung tanpa membawa identitas organisasi. Ada kota yang mengutamakan kampanye transportasi, sementara kota lainnya menjadikan kegiatan sebagai ruang pertemuan dan silaturahmi antarpesepeda.

Karena sifatnya yang terbuka, tidak ada keharusan menggunakan jenis sepeda tertentu.

Road bike, MTB, BMX, fixed gear, sepeda lipat, city bike, onthel maupun sepeda harian dapat berada dalam satu rombongan.

Hal yang mempertemukan mereka bukan jenis sepeda, merek, komunitas ataupun atribut, melainkan kesamaan posisi sebagai pengguna jalan.

Di Garut, misalnya, karakter tersebut terlihat dalam pelaksanaan Critical Mass pada 28 Agustus. Berdasarkan catatan penyelenggara lokal, kegiatan perdana dalam skala besar tersebut diikuti hampir seribu pesepeda dari berbagai wilayah.

Kegiatan itu merupakan kelanjutan dari Road to Critical Mass yang sebelumnya digelar pada 7 Agustus 2026. Pada kegiatan awal tersebut, ratusan sepeda dengan berbagai jenis bergerak bersama menyusuri kawasan perkotaan Garut.

Untuk pelaksanaan 28 Agustus, peserta berkumpul di Alun-Alun Garut sebelum bergerak melalui Jalan Pramuka, Jalan Guntur, Jalan A. Yani, Jalan Bratayuda, Jalan Sukadana dan Jalan Ciledug, kemudian kembali ke kawasan Alun-Alun Garut.

Namun, Garut tidak berdiri sebagai pengecualian. Kota tersebut merupakan salah satu contoh bagaimana konsep Critical Mass dapat menemukan bentuk lokalnya di luar kota-kota metropolitan.

Dari Ruang Jalan ke Kesadaran Bersama

Istilah Critical Mass sering kali diterjemahkan secara sederhana sebagai kegiatan bersepeda dalam jumlah besar. Padahal, jumlah peserta bukan satu-satunya hal yang penting.

Ketika seorang pesepeda melintas sendirian di jalan yang dipenuhi kendaraan bermotor, keberadaannya relatif mudah tidak terlihat. Ketika puluhan atau ratusan pesepeda bergerak bersama, keberadaan mereka menjadi lebih jelas.

Di sinilah jumlah memiliki fungsi sebagai pesan.

Rombongan sepeda membuat masyarakat melihat bahwa jalan tidak hanya digunakan oleh mobil dan sepeda motor.

Jalan juga digunakan oleh pesepeda.

Pesan tersebut kemudian berhubungan dengan gagasan “Bike Is Traffic”—sepeda adalah bagian dari lalu lintas.

Dalam konteks perkotaan Indonesia, gagasan tersebut menjadi relevan ketika ruang jalan masih sangat didominasi kendaraan bermotor. Pesepeda kerap berada dalam posisi yang lebih rentan karena secara ukuran dan jumlah kalah dibandingkan kendaraan bermotor.

Critical Mass membuat keberadaan mereka terlihat secara kolektif.

Namun, keberadaan dalam jumlah besar tidak berarti pesepeda memiliki hak untuk menguasai jalan.

Justru sebaliknya, semakin besar rombongan, semakin besar pula tanggung jawab untuk menjaga keselamatan dan menghormati pengguna jalan lainnya.

Bukan Balapan, Bukan Parade

Critical Mass juga berbeda dengan event sepeda yang memiliki sistem perlombaan.

Tidak ada podium.

Tidak ada target waktu.

Tidak ada pemenang.

Peserta bergerak bersama dalam satu perjalanan dan mengikuti kondisi jalan.

Dalam konteks tersebut, keselamatan menjadi bagian penting.

Pesepeda yang mengikuti kegiatan malam perlu menggunakan helm, lampu atau reflektor, serta memastikan kondisi sepeda layak digunakan.

Rem, ban, roda, rantai dan komponen penting lainnya perlu diperiksa sebelum berangkat.

Peserta juga perlu menjaga jarak, tidak melakukan manuver tiba-tiba, memperhatikan kondisi rombongan dan tetap menghormati kendaraan maupun pejalan kaki yang menggunakan jalan yang sama.

Prinsip tersebut penting agar pesan mengenai hak pesepeda tidak berubah menjadi persoalan keselamatan di jalan.

Grup Koordinasi Bukan Organisasi

Salah satu karakter yang juga penting dipahami adalah posisi ruang komunikasi Critical Mass di tingkat lokal.

Di Garut, misalnya, grup komunikasi Critical Mass sejak awal ditempatkan sebagai pusat koordinasi, bukan organisasi formal.

Hal tersebut disampaikan dalam pemberitaan DasPublika.com sebelum pelaksanaan. Grup tersebut digunakan untuk menyampaikan informasi mengenai waktu berkumpul, titik temu, rute hingga kebutuhan teknis kegiatan. Tidak terdapat struktur kepengurusan maupun keanggotaan formal yang menjadi syarat untuk mengikuti kegiatan.

Peserta Critical Mass Garut, Joy dan Husni, juga menyampaikan kepada DasPublika.com bahwa kegiatan tersebut menjadi kesempatan bagi para pesepeda untuk gowes bersama, bertukar informasi, menambah teman dan memperluas silaturahmi.

Karakter seperti ini sejalan dengan sifat Critical Mass yang berkembang secara organik.

Sebuah kegiatan dapat berlangsung tanpa harus terlebih dahulu mendirikan organisasi.

Pesepeda dapat bertemu karena memiliki kepentingan yang sama.

Mereka dapat menentukan titik kumpul dan rute.

Setelah kegiatan selesai, mereka kembali pada aktivitas masing-masing.

Tidak ada kewajiban untuk membentuk struktur organisasi baru.

Jumat Terakhir Menjadi Momentum

Critical Mass di berbagai tempat dikenal dengan kebiasaan menggelar kegiatan pada Jumat terakhir setiap bulan.

Momentum tersebut membuat kegiatan yang berlangsung di satu kota dapat bertepatan dengan kegiatan serupa di kota lainnya, meskipun tidak berada dalam satu kepanitiaan.

Karena itu, 28 Agustus 2026 memperlihatkan sesuatu yang menarik: pesepeda di sejumlah kota Indonesia bergerak pada malam yang sama dengan konteks lokal masing-masing.

Di Jakarta, ratusan pesepeda bergerak dari GBK menuju kawasan Blok M.

Di Bekasi, kegiatan berlangsung sebagai agenda rutin akhir bulan.

Di Gorontalo, 11 komunitas sepeda bertemu dalam Indonesia Critical Mass yang dirangkaikan dengan Semarak RRI Fest 2026.

Di Garut, hampir seribu pesepeda mengikuti pelaksanaan perdana dalam skala besar setelah agenda Road to Critical Mass pada awal Agustus.

Keempat contoh tersebut memperlihatkan bahwa Critical Mass dapat memiliki bentuk berbeda tanpa kehilangan gagasan dasarnya.

Hak Menggunakan Jalan dan Tanggung Jawab

Dalam konteks lalu lintas, pesan Critical Mass sesungguhnya tidak berhenti pada tuntutan agar pesepeda dihargai.

Ada hubungan timbal balik antara hak dan tanggung jawab.

Pesepeda memiliki hak menggunakan jalan, tetapi harus memperhatikan aturan lalu lintas dan keselamatan.

Pengendara kendaraan bermotor memiliki hak menggunakan jalan, tetapi juga berkewajiban memperhatikan keberadaan pengguna jalan lain.

Pemerintah memiliki tanggung jawab menyediakan ruang transportasi yang aman dan layak bagi berbagai moda.

Dengan demikian, persoalan yang dibawa Critical Mass bukan sekadar persoalan pesepeda.

Ia berkaitan dengan bagaimana kota memperlakukan ruang publik dan bagaimana berbagai kelompok pengguna jalan dapat berbagi ruang secara aman.

Gerakan yang Tidak Harus Seragam

Keberagaman pelaksanaan Critical Mass justru menjadi salah satu kekuatannya.

Tidak semua kota membutuhkan rute yang sama.

Tidak semua daerah memiliki jumlah peserta yang sama.

Tidak semua komunitas memiliki cara koordinasi yang sama.

Yang penting adalah keberadaan pesepeda sebagai bagian dari ruang jalan tetap terlihat dan kegiatan berlangsung secara aman serta bertanggung jawab.

Di Gorontalo, Rahmat Jaya Katili berharap kegiatan seperti Indonesia Critical Mass dapat semakin sering dilakukan sehingga masyarakat kembali terdorong untuk bersepeda. Menurutnya, kegiatan yang melibatkan banyak komunitas dapat memberikan suasana berbeda sekaligus memotivasi masyarakat untuk ikut bersepeda.

Harapan tersebut memperlihatkan bahwa Critical Mass tidak hanya berbicara tentang satu malam bersepeda.

Ia juga dapat menjadi pintu masuk untuk membicarakan budaya bersepeda, transportasi, keselamatan jalan dan keberadaan moda nonmotor di ruang publik.

Pada akhirnya, yang terjadi pada Jumat malam 28 Agustus 2026 bukanlah satu event nasional dengan satu panggung dan satu komando.

Yang terjadi adalah sejumlah pertemuan lokal yang berlangsung pada momentum yang sama.

Pesepeda di berbagai kota keluar dari rumah, menuju titik kumpul masing-masing, kemudian bergerak bersama melewati jalan-jalan kota.

Mereka membawa jenis sepeda yang berbeda.

Mereka datang dari komunitas yang berbeda.

Mereka memiliki rute yang berbeda.

Tetapi ada satu kesamaan yang ingin ditunjukkan:

sepeda juga menggunakan jalan.

Dan ketika keberadaan itu hadir dalam jumlah banyak, pesan tersebut menjadi lebih mudah terlihat.

Bukan untuk menguasai jalan.

Bukan untuk menghalangi pengguna jalan lain.

Bukan pula untuk menjadikan Critical Mass sebagai organisasi baru.

Melainkan untuk mengingatkan bahwa ruang jalan adalah ruang bersama—dan di dalamnya terdapat manusia dengan berbagai cara untuk bergerak. (*)