• 05 Jun, 2026

Rupiah Ambruk ke Rp17.957, Terlemah Sepanjang Sejarah

Rupiah Ambruk ke Rp17.957, Terlemah Sepanjang Sejarah

JAKARTA, mediamassa.id – Nilai tukar rupiah kembali mencatatkan sejarah kelam setelah ditutup di level Rp17.957 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (3/6/2026). Posisi tersebut menjadi titik terlemah rupiah sejak Indonesia merdeka, sekaligus menandai meningkatnya tekanan terhadap perekonomian nasional di tengah gejolak global dan ketidakpastian domestik.

Pelemahan rupiah mencapai 0,62 persen dalam sehari, menjadikannya salah satu mata uang dengan kinerja terburuk di kawasan Asia. Hanya ringgit Malaysia yang mengalami tekanan lebih besar, sementara rupee India, yuan offshore China, dan dolar Singapura juga tercatat berada di zona merah.

Tekanan terhadap mata uang negara-negara Asia dipicu oleh menguatnya dolar AS serta lonjakan harga minyak mentah dunia yang mendekati level US$100 per barel. Kondisi tersebut meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap inflasi global dan memperbesar kebutuhan devisa negara-negara pengimpor energi, termasuk Indonesia.

Namun bagi rupiah, faktor eksternal bukan satu-satunya penyebab. Sejumlah pelaku pasar menilai sentimen domestik turut memperburuk tekanan terhadap mata uang nasional. Inkonsistensi kebijakan, ketidakpastian arah fiskal, serta meningkatnya kehati-hatian investor terhadap prospek ekonomi Indonesia dinilai menjadi faktor yang mengurangi daya tarik aset domestik.

Melemahnya rupiah berpotensi meningkatkan biaya impor, menambah beban sektor industri yang bergantung pada bahan baku luar negeri, serta memperbesar tekanan terhadap harga barang dan jasa di dalam negeri. Kondisi ini juga menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah dan Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas ekonomi sekaligus mempertahankan kepercayaan pasar.

Tekanan global yang masih tinggi dan sentimen domestik yang belum sepenuhnya pulih, membuat pergerakan rupiah dalam beberapa waktu ke depan diperkirakan masih akan menghadapi volatilitas yang cukup besar. (*)