Mediamassa.id – Nilai tukar rupiah menunjukkan penguatan signifikan menjelang akhir pekan. Berdasarkan data kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia, rupiah pada penutupan perdagangan Jumat (12/6) berada di level Rp17.865 per dolar Amerika Serikat (AS), menguat dibandingkan posisi pekan sebelumnya yang sempat berada di atas Rp18.000 per dolar AS.
Penguatan tersebut terjadi setelah pasar merespons positif langkah Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar dan pasar keuangan domestik. Selain itu, masuknya kembali arus modal asing ke sejumlah instrumen keuangan Indonesia turut menjadi faktor pendukung penguatan mata uang nasional.
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menyatakan bahwa “Kondisi pasar mulai menunjukkan perbaikan seiring meningkatnya kepercayaan investor terhadap fundamental ekonomi Indonesia. Kebijakan moneter yang ditempuh Bank Indonesia bertujuan menjaga stabilitas nilai tukar sekaligus memastikan inflasi tetap terkendali," kata Perry Warjiyo, Gubernur Bank Indonesia, (12/62026)
Bank Indonesia juga mencatat peningkatan aliran modal asing ke instrumen pasar keuangan domestik, terutama pada Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan Surat Berharga Negara (SBN). Kondisi tersebut memberikan tambahan likuiditas sekaligus memperkuat sentimen positif terhadap rupiah.
Sejumlah ekonom menilai penguatan rupiah tidak hanya dipengaruhi faktor moneter, tetapi juga oleh kondisi fiskal Indonesia yang relatif terjaga. Defisit anggaran yang masih terkendali serta kinerja penerimaan negara yang cukup baik dinilai menjadi faktor yang ikut menopang kepercayaan pasar.
Meski demikian, pelaku pasar masih mencermati berbagai perkembangan global yang berpotensi memengaruhi pergerakan nilai tukar, termasuk arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat dan dinamika geopolitik internasional. Karena itu, penguatan rupiah saat ini masih memerlukan dukungan kebijakan yang konsisten agar dapat berlanjut dalam jangka menengah.
Penguatan rupiah ke level Rp17.865 per dolar AS menjadi sinyal positif bagi perekonomian nasional setelah sebelumnya sempat mengalami tekanan cukup besar. Stabilitas nilai tukar diharapkan dapat membantu menekan biaya impor, menjaga inflasi, serta meningkatkan kepercayaan investor terhadap pasar Indonesia. (*)
Sumber: Bank Indonesia, data JISDOR dan keterangan resmi BI.