Mediamassa.id - Konon, sebelum kalender mengenal Januari, sebelum Desember menjadi nama bulan, bahkan sebelum semesta memiliki alasan untuk disebut semesta, sudah ada sekelompok manusia yang tampaknya terlalu cepat bosan menunggu evolusi. Mereka memilih membentuk band lebih dulu. Dunia belakangan. Nama mereka? Desember.

Para ilmuwan mungkin akan keberatan. Menurut kosmologi modern, alam semesta lahir sekitar 13,8 miliar tahun lalu melalui peristiwa yang kemudian dikenal sebagai Big Bang. Ruang mengembang, waktu mulai berdetak, materi terbentuk, galaksi bermunculan, bintang menyala, planet mengeras, lalu miliaran tahun setelahnya manusia menciptakan musik—atau setidaknya begitulah buku pelajaran menjelaskannya.
Masalahnya, teori itu tampaknya belum pernah meminta keterangan kepada Desember.
Kalau mengikuti logika band ini, barangkali yang lebih dulu muncul bukan ruang dan waktu, melainkan suara feedback gitar yang menggantung di kehampaan. Sebelum cahaya berhasil mencapai sudut pertama alam semesta, mungkin sudah ada amplifier tua yang mendengung tanpa colokan listrik. Bahkan tidak mustahil dentuman drum pertama justru menjadi alasan mengapa Big Bang akhirnya memutuskan terjadi.
Tentu saja ini tidak ilmiah.
Dan untungnya Desember juga tidak sedang mengajukan jurnal ke fakultas fisika.
Mereka hanya sedang melakukan sesuatu yang jauh lebih berbahaya: menertawakan keseriusan dunia.
Sebab manusia modern memiliki kebiasaan yang aneh. Kita selalu ingin mengetahui awal dari segala sesuatu. Kapan berdiri? Siapa pendirinya? Siapa personel awal? Siapa yang keluar? Siapa yang masuk? Di mana latihan pertama? Siapa yang paling berjasa?
Desember menjawab semua pertanyaan itu dengan cara paling elegan sekaligus paling menyebalkan.
"Kami sudah ada sebelum semua itu."
Selesai.
Tidak ada yang bisa membantah.
Tidak ada pula yang bisa membuktikan.
Kalau para kosmolog meyakini alam semesta bermula sekitar 13,8 miliar tahun lalu melalui peristiwa yang dikenal sebagai Big Bang, Desember tampaknya memiliki versi yang sedikit berbeda.
Menurut mereka, ledakan besar itu bukanlah awal dari segalanya, melainkan sebuah sound check yang volumenya kelewat keras. "Kick drum pertama," kata salah seorang personelnya. Yang lain menimpali, “Universe kebetulan ikut nyala.”
Tentu saja mereka tidak sedang mengajukan teori tandingan terhadap fisika modern. Mereka hanya sedang melakukan sesuatu yang jauh lebih berbahaya: menertawakan keseriusan manusia dalam menjelaskan segala hal.
Di dunia mereka, Big Bang bukan perkara kosmologi, melainkan sekadar masalah teknis panggung yang kebetulan berdampak pada lahirnya ruang, waktu, galaksi, dan miliaran manusia yang kemudian sibuk memperdebatkan siapa paling dulu ada.
"Maaf ya, Stephen Hawking..." ujar salah seorang personel dengan ekspresi nyaris tanpa perubahan. “...kami duluan.”
Kalimat itu terdengar begitu absurd hingga nyaris mustahil dianggap sebagai lelucon. Namun justru di situlah cara kerja Desember. Mereka tidak sedang mengejek ilmuwan besar tersebut, apalagi merendahkan ilmu pengetahuan.
Yang mereka olok adalah kecenderungan manusia modern yang percaya bahwa setiap pertanyaan harus memiliki jawaban final, setiap peristiwa harus memiliki titik nol, dan setiap band harus memiliki kisah kelahiran yang rapi.
Menurut Desember, mungkin alam semesta sendiri sudah lupa kapan sebenarnya ia mulai ada.
Bahkan mereka memiliki "teori resmi" sendiri mengenai asal-usul kehidupan. Alam semesta, kata mereka, tidak lahir dari ledakan. Alam semesta lahir karena terlalu lama hening.
Keheningan itu bosan kepada dirinya sendiri, lalu menciptakan bunyi. Dari bunyi lahirlah ritme. Dari ritme lahirlah waktu. Baru setelah itu manusia datang dan mengklaim telah menemukan sejarah.
“Kami cuma kebetulan sudah latihan waktu semuanya masih sunyi.”
Sulit memastikan apakah itu candaan, puisi, atau filosofi yang terlalu lama nongkrong di studio latihan.
Mungkin memang sejak awal mereka tidak ingin dipahami. Mereka lebih suka membuat orang mengernyit, lalu tertawa sendiri beberapa menit kemudian ketika menyadari bahwa seluruh narasi itu hanyalah sebuah parodi terhadap obsesi manusia membangun mitologi.
Ironisnya, semakin mereka bercanda, semakin serius musik yang mereka hasilkan.
Di balik humor yang nyaris absurd itu berdiri orang-orang yang sudah terlalu lama hidup di skena independen. Mereka bukan wajah baru yang tiba-tiba belajar memainkan instrumen karena sedang tren. Mereka datang dari perjalanan panjang berbagai band underground—hardcore, punk, metal, hingga proyek-proyek lain yang pernah menjadi denyut alternatif di zamannya.
Nama-nama band itu sengaja tidak perlu disebut.
Bukan karena tidak penting.
Justru karena terlalu penting.
Desember seperti ingin membunuh kebiasaan industri musik yang lebih sibuk menjual biodata daripada karya. Mereka seolah berkata, kalau yang dicari hanya daftar riwayat hidup personel, mungkin ensiklopedia lebih menarik daripada album.
Maka mereka memilih anonim.
Biarkan lagu yang memperkenalkan pemiliknya.
Pilihan itu terasa nyaris subversif di tengah zaman ketika musisi sering kali dituntut lebih rajin membuat konten daripada membuat lagu. Algoritma meminta wajah. Media sosial meminta cerita. Industri meminta persona.
Desember justru datang membawa kebalikannya.
Semakin sedikit diketahui, semakin nyaman mereka berjalan.
Mereka bersikeras bahwa personelnya berjumlah delapan orang. Anehnya, yang hampir selalu terlihat di panggung hanya empat. Seorang lagi memiliki status "kambuhan".
Kadang muncul, kadang menghilang tanpa alasan yang bisa dijelaskan. Kadang ikut latihan, kadang baru datang ketika lagu terakhir hampir selesai dimainkan.
"Dia bukan telat," kata salah seorang personel. "Waktu saja yang belum sinkron."
Lalu tiga orang lainnya?
“Lagi keliling universe.”
Mereka, konon, tidak sedang tur. Mereka sedang mencari planet dengan akustik terbaik.
Jawaban itu disampaikan dengan keseriusan yang membuat orang ragu untuk tertawa.
Barangkali memang tidak ada yang lucu. Atau justru semuanya lucu. Sulit membedakan keduanya ketika berbicara dengan Desember.
Kalau ditanya kapan mereka berkumpul lengkap, jawabannya lebih membingungkan lagi.
“Kalau orbitnya ketemu.”
Mungkin itulah satu-satunya band yang jadwal latihannya bergantung pada pergerakan benda langit.
Secara musikal, mereka memilih grunge sebagai rumah.
Namun jangan buru-buru membayangkan ini sebagai upaya mendaur ulang Seattle tahun 1990-an. Pengaruh itu memang terasa, tetapi berhenti sebagai fondasi, bukan tujuan. Yang terdengar justru adalah suara orang-orang yang sudah melewati terlalu banyak panggung, terlalu banyak studio latihan, terlalu banyak band yang lahir dan mati, hingga akhirnya tidak lagi merasa perlu membuktikan apa pun kepada siapa pun.
Distorsi mereka terdengar kasar.
Tetapi tidak dibuat-buat.
Vokalnya tidak sibuk mengejar nada yang steril.
Liriknya pun tidak memoles luka menjadi puisi agar terdengar keren.
Semuanya terasa apa adanya.
Album My Self menjadi penjelasan paling jujur mengenai sikap itu. Tujuh lagu yang mengisinya—Rutinitashit, Retak Kranial, Masih Sama, Waktu, Bernyawa, Waktu Kita, dan Waktu (Live Version)—seperti serpihan percakapan dengan diri sendiri ketika dunia sedang terlalu bising.
Rutinitashit berbicara tentang hidup yang perlahan berubah menjadi mesin otomatis. Bangun, bekerja, pulang, tidur, mengulang, lalu lupa kapan terakhir benar-benar hidup.
Retak Kranial terdengar seperti kepala yang akhirnya menyerah menyimpan semua kebisingan.
Masih Sama mengajak berdamai dengan kenyataan bahwa tidak semua orang berubah, meski usia terus bertambah.
Waktu, Waktu Kita, dan Bernyawa bergerak di wilayah yang lebih reflektif—tentang kehilangan, harapan, kesempatan, serta usaha mempertahankan kewarasan di tengah dunia yang semakin ramai tetapi terasa semakin sepi.
Mereka tidak menawarkan jawaban.
Mereka hanya memutar cermin ke arah pendengarnya.
Dan mungkin itu lebih mengganggu.
Yang paling menarik dari Desember bukanlah klaim bahwa mereka sudah ada sebelum alam semesta.
Semua orang tahu itu mustahil.
Yang menarik adalah keberanian mereka mengolok kebutuhan manusia untuk selalu tampak penting. Ketika banyak band berlomba menciptakan legenda tentang dirinya, Desember justru menciptakan legenda yang begitu berlebihan hingga semua orang sadar itu hanyalah lelucon.
Namun, seperti semua satire yang baik, lelucon itu menyimpan kritik.
Bahwa mungkin musik tidak memerlukan silsilah.
Tidak membutuhkan mitos.
Tidak harus dibungkus narasi kepahlawanan.
Cukup lagu yang jujur.
Sisanya, biarkan dunia sibuk memperdebatkan kapan semuanya dimulai.
Desember tampaknya sudah terlalu lama hidup untuk ikut mempermasalahkannya. Atau setidaknya, begitulah yang mereka ingin kita percayai. Dan entah mengapa, setelah mendengar lagu-lagunya, kebohongan kecil itu terasa jauh lebih menyenangkan daripada banyak kebenaran yang setiap hari dijual kepada kita. (*)