Eri Rahmat Alhaidir: Kolaborasi UMKM dan “Gaul Digital” Hadapi Lonjakan Permintaan
Eri Rahmat Alhaidir Dorong UMKM Berkolaborasi dan “Gaul Digital” Hadapi Lonjakan Permintaan
Disarankan:
Ratusan hektare lahan pertanian di Sukawening, Garut, rusak akibat hama tikus. Pemerintah Kabupaten Garut diminta segera bertindak.
Mediamassa.id – Ratusan hektare lahan pertanian di Desa Sukamukti, Kecamatan Sukawening, Kabupaten Garut, dilaporkan mengalami gagal panen akibat serangan hama tikus yang telah berlangsung selama dua musim tanam berturut-turut. Kondisi tersebut tidak hanya menimpa tanaman padi, tetapi juga komoditas pertanian lain seperti jagung dan tanaman pangan lainnya.
Fakta tersebut terungkap saat Eri Rahmat Al Haidir, aktivis sekaligus pemerhati kebijakan publik, meninjau langsung lokasi terdampak pada Sabtu (30/5/2026). Dalam kunjungan tersebut, Eri didampingi Ade Sobandi, salah seorang petani yang lahannya terdampak serangan hama tikus.

Dari lokasi, hamparan lahan pertanian yang rusak terlihat membentang luas. Banyak tanaman yang tidak dapat dipanen akibat serangan tikus yang terus berulang.
"Ini gambaran hamparan sawah yang gagal panen di Kecamatan Sukawening. Tidak ada sama sekali penanganan dari pemerintah daerah. Mau bagaimana ini?" ujar Eri Rahmat.
Sementara itu, Ade Sobandi menjelaskan bahwa serangan hama tikus telah berlangsung selama dua musim tanam dan menyebabkan kerugian besar bagi petani setempat.
"Ini sebetulnya sudah musim kedua. Padi hancur, tidak bisa dimanfaatkan, gagal panen total," kata Ade.
Menurutnya, kerusakan tidak hanya terjadi pada tanaman padi. Jagung dan sejumlah tanaman pangan lainnya juga mengalami nasib serupa akibat serangan hama yang tidak terkendali.
"Wabah tikus merajalela. Ratusan hektare sampai ke sana," ujarnya sambil menunjukkan hamparan lahan pertanian yang terdampak.

Eri Rahmat menuturkan, mayoritas petani di wilayah tersebut merupakan petani subsisten, yakni petani yang menanam untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarganya sendiri. Karena itu, gagal panen tidak hanya berdampak pada pendapatan, tetapi juga mengancam ketersediaan pangan rumah tangga.
"Sebagian besar petani di sini menanam untuk kebutuhan keluarga. Ketika panen gagal seperti sekarang, mereka tidak punya cadangan pangan. Akhirnya harus membeli beras dan kebutuhan pokok lainnya," ungkapnya.
Berdasarkan informasi yang dihimpun di lapangan, serangan hama tikus tidak hanya terjadi di Kecamatan Sukawening. Sejumlah wilayah lain di Kabupaten Garut, diantaranya Kecamatan Karangtengah, dilaporkan mengalami persoalan serupa.
Kondisi ini mengindikasikan bahwa wabah tikus telah menjadi ancaman yang lebih luas bagi sektor pertanian di kawasan tersebut dan memerlukan penanganan lintas wilayah.
Menanggapi kondisi itu, Eri Rahmat menilai persoalan yang dialami para petani seharusnya menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Terlebih, saat ini pemerintah pusat di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto tengah mendorong penguatan sektor pertanian dan ketahanan pangan nasional.
"Ketahanan pangan tidak bisa hanya dipahami sebagai target produksi nasional. Ketahanan pangan harus dimulai dari petani. Ketika petani kehilangan hasil panen selama dua musim berturut-turut dan tidak mendapatkan penanganan yang memadai, maka tujuan besar ketahanan pangan akan sulit tercapai," katanya.
Ia menambahkan, program ketahanan pangan yang tengah didorong pemerintah pusat di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto perlu diimplementasikan hingga tingkat paling bawah, termasuk dengan memastikan petani mendapatkan perlindungan dari ancaman hama dan gagal panen.
Karena itu, Eri Rahmat mendesak pemerintah daerah dan instansi terkait segera turun tangan melalui langkah-langkah konkret, mulai dari pengendalian hama tikus secara terpadu, pendampingan teknis kepada petani, hingga bantuan bagi masyarakat yang terdampak.
"Jangan sampai petani dibiarkan menghadapi persoalan ini sendirian. Kehadiran pemerintah sangat dibutuhkan agar mereka bisa kembali menanam dan mempertahankan sumber pangan keluarganya," pungkasnya. (*)
Eri Rahmat Alhaidir Dorong UMKM Berkolaborasi dan “Gaul Digital” Hadapi Lonjakan Permintaan