Atlet BMX Garut Mundur dari PORPROV 2026, Bayu: Dukungan Anggaran Minim
Dua Atlet BMX Freestyle Garut Mundur dari PORPROV 2026, Pelatih Soroti Minimnya Dukungan Anggaran
Disarankan:
Bandung, mediamassa.id – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan atlet BMX Freestyle asal Kabupaten Garut. Haekal Ahmad Fauzan berhasil meraih posisi Juara 2 kategori Park Open dalam ajang Hobbies Fest Seri 2 Tahun 2026 yang berlangsung Rabu, 28 Oktober 2026 di Summarecon Mall Bandung.

Pencapaian tersebut menjadi bukti bahwa atlet BMX asal Garut memiliki potensi dan kemampuan bersaing dalam kompetisi di luar daerah. Namun, di balik prestasi itu, tersimpan ironi mengenai perhatian dan dukungan pembinaan olahraga di Kabupaten Garut.
Haekal merupakan salah satu dari dua atlet BMX Freestyle Garut yang sebelumnya menyatakan mundur dari keikutsertaan dalam Pekan Olahraga Provinsi (PORPROV) 2026. Bersama rekannya, Aditya Pratama, ia memutuskan tidak melanjutkan persiapan menuju kompetisi tersebut bersama pelatih Bayu Ningrat.
Keputusan pengunduran diri itu sebelumnya disampaikan melalui Asosiasi BMX Indonesia (ABI) Kabupaten Garut. Bayu Ningrat, yang juga menjabat sebagai Ketua ABI Garut, mengungkapkan bahwa persoalan dukungan anggaran menjadi salah satu kendala utama dalam persiapan atlet.
Menurut Bayu, selama menjalani latihan, kebutuhan pembinaan terpaksa ditopang melalui dana swadaya. Bahkan, tim harus menyewa peralatan dari provinsi lain untuk menunjang kegiatan latihan.
Selain itu, ia juga menyoroti keterlambatan pencairan insentif yang disebut hanya sebesar Rp300 ribu per atlet dan pelatih. Sementara kebutuhan biaya latihan, suplemen, serta perawatan sepeda belum mendapatkan dukungan yang memadai.
Kini, prestasi Haekal di Bandung menghadirkan perspektif lain terhadap persoalan tersebut. Atlet yang sebelumnya mundur dari persiapan PORPROV karena keterbatasan dukungan ternyata mampu menunjukkan kemampuan dan meraih posisi juara dalam kompetisi BMX Freestyle.
Prestasi yang Seharusnya Menjadi Perhatian Garut
Capaian Haekal semestinya tidak hanya disambut sebagai keberhasilan individu, tetapi juga menjadi bahan evaluasi sekaligus momentum bagi pengelola olahraga Kabupaten Garut untuk melihat kembali potensi atlet yang dimiliki daerah.
Prestasi olahraga tidak selalu dimulai dari fasilitas besar atau dukungan anggaran yang melimpah. Namun, potensi yang sudah terlihat membutuhkan perhatian, pembinaan berkelanjutan, dan dukungan yang konsisten agar dapat berkembang menjadi prestasi yang lebih tinggi.
Dalam konteks ini, ISSI dan KONI Kabupaten Garut perlu melihat BMX Freestyle sebagai cabang olahraga yang memiliki potensi untuk dikembangkan. Keberhasilan Haekal meraih Juara 2 Park Open di ajang Hobbies Fest Seri 2 2026 menjadi salah satu indikator bahwa pembinaan atlet BMX Garut memiliki modal yang layak diperhatikan.
Jangan sampai potensi atlet baru mendapatkan perhatian ketika berhasil membawa pulang piala, sementara proses panjang di balik pencapaian tersebut justru luput dari dukungan.
Apalagi, persoalan yang sebelumnya disampaikan ABI Garut bukan semata-mata mengenai keinginan atlet memperoleh insentif. Kebutuhan latihan, ketersediaan peralatan, perawatan sepeda, hingga pembiayaan operasional merupakan bagian mendasar dalam proses pembinaan olahraga.
Jika kebutuhan tersebut tidak terpenuhi, atlet dan pelatih akan terus menghadapi hambatan untuk mengembangkan kemampuan secara optimal.
Jangan Biarkan Potensi Berjalan Sendiri
Keberhasilan Haekal di Bandung juga menjadi pengingat bahwa prestasi atlet tidak bisa sepenuhnya dibebankan kepada individu dan pelatih. Ada tanggung jawab organisasi olahraga serta pemerintah daerah untuk menciptakan ekosistem pembinaan yang memungkinkan potensi atlet berkembang.
Kabupaten Garut membutuhkan sistem pembinaan yang tidak hanya berorientasi pada keikutsertaan dalam kompetisi, tetapi juga memperhatikan proses latihan, fasilitas, pendanaan, dan keberlanjutan regenerasi atlet.
KONI Kabupaten Garut sebagai induk organisasi olahraga daerah bersama ISSI perlu menjadikan capaian ini sebagai bahan evaluasi dan dasar untuk memetakan potensi BMX Freestyle. Dukungan terhadap atlet semestinya tidak bersifat insidental, melainkan menjadi bagian dari perencanaan pembinaan jangka panjang.
Prestasi Haekal memang belum bisa dijadikan satu-satunya ukuran keberhasilan pembinaan BMX Garut. Namun, hasil tersebut cukup menjadi alasan untuk tidak mengabaikan potensi yang ada.
Ada talenta yang perlu dikembangkan, ada pelatih yang perlu didukung, dan ada cabang olahraga yang membutuhkan perhatian lebih serius.
Sebab, akan menjadi ironi apabila Kabupaten Garut memiliki atlet berpotensi, tetapi mereka harus berjuang sendiri untuk mendapatkan kesempatan berkembang.
Haekal sudah menunjukkan kemampuannya di arena kompetisi. Kini, pertanyaannya adalah sejauh mana pengelola olahraga Kabupaten Garut bersedia melihat, menghargai, dan mendukung potensi tersebut?. (*)
Dua Atlet BMX Freestyle Garut Mundur dari PORPROV 2026, Pelatih Soroti Minimnya Dukungan Anggaran