Mediamassa.id – Jumat malam, 7 Agustus 2026, Garut tidak sedang kedatangan parade. Tidak ada panggung besar. Tidak ada karpet merah. Tidak ada seremoni.
Yang ada hanya ratusan sepeda.

Dari depan kantor gubernur Jawa Barat wilayah Priangan, bekas Bakorwil Garut, satu per satu pesepeda berdatangan. BMX, MTB, road bike, fixed gear, sepeda harian, sepeda lipat, sepeda onthel, minion dan berbagai jenis sepeda lain bercampur menjadi satu.
Pukul 18.30 WIB, massa mulai bergerak.
Critical Mass Garut akhirnya benar-benar terjadi.
Dan malam itu, jalanan kota menjadi ruang pertemuan.
Bukan sekadar tempat kendaraan berpindah dari titik A ke titik B, tetapi ruang tempat orang-orang menunjukkan bahwa ada cara lain untuk bergerak di dalam kota.
Table of contents [Show]
Bukan Demonstrasi. Bukan Konvoi Gagah-gagahan.
Sejak awal, para penggagas Critical Mass Garut sudah menyampaikan pesan yang sederhana:
"Kami tidak menghalangi lalu lintas. Kami adalah bagian dari lalu lintas."

Kalimat itu bukan sekadar slogan tempelan.
Ia merupakan inti dari filosofi Critical Mass yang telah hidup lebih dari tiga dekade.
Gerakan ini bermula di San Francisco pada 1992. Para pesepeda berkumpul dan bergerak bersama pada Jumat terakhir setiap bulan. Dari sana, konsepnya menyebar ke berbagai kota di dunia.
Tidak ada kantor pusat.
Tidak ada kartu anggota.
Tidak ada ketua yang harus memberi komando dari atas mobil.
Critical Mass tumbuh sebagai gerakan akar rumput yang terdesentralisasi. Orang datang karena ingin bersepeda bersama, merasa lebih aman ketika jumlah mereka banyak, sekaligus menunjukkan bahwa sepeda juga merupakan bagian dari lalu lintas.
Dan dari sanalah muncul kalimat yang kemudian menjadi semacam mantra gerakan:
WE ARE TRAFFIC.
Kami adalah lalu lintas.
Bukan penghalang lalu lintas.
Kota Selama Ini Terlalu Sering Dibaca dari Kaca Mobil

Ada sesuatu yang menarik dari Critical Mass.
Ia tidak meminta orang berhenti menggunakan mobil atau sepeda motor.
Ia hanya mengajukan pertanyaan yang jauh lebih mengganggu:
Kalau jalan adalah ruang bersama, mengapa sebagian pengguna jalan selalu dianggap lebih berhak daripada yang lain?
Pertanyaan itu relevan di Garut.
Selama ini jalan kota lebih sering dibayangkan sebagai ruang kendaraan bermotor. Ukuran keberhasilan lalu lintas biasanya dihitung dari seberapa cepat kendaraan bisa bergerak.
Sepeda berada di posisi yang aneh.
Ketika berada di trotoar, pesepeda dianggap mengganggu pejalan kaki.
Ketika menggunakan badan jalan, dianggap mengganggu kendaraan bermotor.
Lalu pertanyaannya:
Pesepeda harus berada di mana?
Di sinilah Critical Mass menjadi menarik.
Ia tidak sekadar mengajak orang bersepeda. Ia memperlihatkan tubuh-tubuh manusia, roda-roda kecil dan kayuhan yang pelan, masuk ke dalam ruang kota yang selama ini terlalu sering dirancang dengan logika mesin.
Sepeda Bukan Tamu di Jalan
Secara hukum, sepeda bukan benda asing dalam sistem lalu lintas Indonesia.
Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan mengenal kendaraan bermotor dan kendaraan tidak bermotor sebagai bagian dari lalu lintas. Definisi lalu lintas sendiri mencakup pergerakan kendaraan dan orang di jalan.

Artinya, keberadaan pesepeda di jalan bukan kemurahan hati pengguna kendaraan bermotor.
Pesepeda bukan penyusup.
Pesepeda bukan gangguan yang kebetulan lewat.
Mereka adalah pengguna jalan.
Tentu saja hak tersebut berjalan beriringan dengan kewajiban untuk mematuhi aturan dan menjaga keselamatan pengguna jalan lainnya.
Dan justru di titik itulah Critical Mass Garut mencoba mengambil posisi.
Hak tidak berarti bebas semaunya.
Hak berarti ada ruang yang sama untuk hidup, bergerak dan sampai ke tujuan dengan selamat.
Ratusan Orang, Satu Jalan
Malam itu, massa bergerak menyusuri sejumlah ruas jalan Garut.
Rutenya melewati Jalan Cimanuk, Jalan Merdeka, Jalan Perintis, Jalan Bank, Jalan Ahmad Yani, Jalan Bratayuda, Jalan Karacak, Jalan Ciledug, Jalan Ranggalawe, Jalan Cikuray, kemudian kembali ke kawasan Jalan Ahmad Yani.

Ratusan pesepeda bergerak sebagai satu massa.
Bagi sebagian orang mungkin pemandangan tersebut terlihat sederhana.
Tetapi bagi mereka yang memahami sejarah Critical Mass, jumlah adalah bagian penting dari gagasan.
Satu pesepeda di jalan yang sibuk bisa terasa kecil.
Sepuluh pesepeda masih mudah diabaikan.
Seratus orang mulai terlihat.
Ratusan?
Kota mau tidak mau melihat.
Bukan karena pesepeda ingin menjadi penguasa jalan.
Justru karena mereka ingin memperlihatkan bahwa mereka ada.
"We Are Traffic"
Di berbagai kota, Critical Mass memang tidak selalu terbebas dari kontroversi. Sejarah gerakan ini juga mencatat perdebatan panjang mengenai apakah massa pesepeda membantu atau justru mengganggu lalu lintas. Namun di banyak tempat, gerakan tersebut ikut membuat isu keselamatan pesepeda, infrastruktur sepeda, dan hak berbagi jalan semakin terlihat di ruang publik.
Karena itu, Critical Mass Garut seharusnya tidak dibaca semata sebagai kegiatan komunitas.
Ia bisa menjadi semacam cermin.
Cermin untuk pemerintah.
Cermin untuk pengendara.
Cermin untuk para pesepeda sendiri.
Dan tentu saja cermin bagi sebuah kota: seberapa ramah sebenarnya Garut terhadap manusia yang bergerak tanpa mesin?
Pertanyaan itu menjadi semakin penting ketika jumlah kendaraan bermotor terus memenuhi ruang jalan, sementara pesepeda dan pejalan kaki harus berebut ruang yang tersisa.
Bukan Merebut Jalan
Menariknya, para peserta Critical Mass Garut sejak awal justru membawa aturan yang cukup ketat.

Pesepeda diminta memprioritaskan penyeberang jalan, mematuhi rambu dan marka, menggunakan lajur kiri, tidak melawan arus, menjaga jarak, serta menghormati pengguna jalan lainnya.
Perlengkapan keselamatan juga menjadi bagian penting: helm, lampu, reflektor belakang, bel, sepatu dan rem yang berfungsi baik.
Ada pula larangan yang jelas: tidak berboncengan, tidak mengonsumsi alkohol, tidak ditarik kendaraan bermotor dan tidak menggunakan trotoar sebagai lintasan.
Pesannya sederhana:
Kalau ingin dihormati di jalan, jangan menjadi pengguna jalan yang tidak menghormati orang lain.
Ini penting.
Sebab perjuangan mendapatkan ruang tidak boleh berubah menjadi pembenaran untuk mengambil ruang orang lain.
Jalan raya tetap milik bersama.
Sebanyak apa pun jumlah pesepeda, pengguna kendaraan bermotor tetap memiliki hak yang sama.
Pejalan kaki tetap memiliki prioritas ketika menyeberang.
Dan keselamatan tetap menjadi aturan tertinggi.
Critical Mass Garut malam itu mungkin belum mengubah satu meter pun marka jalan.
Belum otomatis melahirkan jalur sepeda.
Belum serta-merta membuat kota menjadi ramah pesepeda.

Tetapi sesuatu sudah dimulai.
Ratusan orang berkumpul bukan karena dibayar.
Bukan karena diwajibkan.
Bukan karena ada seragam organisasi yang harus dikenakan.
Mereka datang dengan sepeda masing-masing.
Mereka bergerak bersama.
Dan mereka meninggalkan satu pesan yang sebenarnya sangat sederhana:
Kami ada.
Sepeda ada.
Pesepeda ada.
Dan mereka menggunakan jalan.
Kalau setelah malam itu pemerintah melihat kebutuhan terhadap ruang bersepeda dengan cara yang berbeda, kalau pengendara mulai lebih sadar bahwa sepeda juga punya tempat di jalan, atau kalau seorang anak muda tiba-tiba berpikir bahwa bersepeda ke sekolah ternyata mungkin dilakukan, maka Critical Mass sudah melakukan sesuatu yang lebih besar dari sekadar gowes malam Jumat.
Ia telah membuat kota sedikit lebih sadar terhadap tubuh manusia yang bergerak di dalamnya.
Critical Mass Garut direncanakan menjadi agenda yang berlangsung pada Jumat terakhir setiap bulan.

Artinya, 7 Agustus bukan titik akhir.
Justru mungkin merupakan permulaan.
Permulaan dari sebuah kebiasaan baru.
Permulaan dari pertemuan rutin para pesepeda Garut.
Permulaan dari percakapan tentang jalur sepeda, keselamatan, ruang publik dan bagaimana sebuah kota seharusnya memperlakukan penggunanya.
Sebab kota yang baik bukan kota yang membuat mobil bisa melaju sekencang-kencangnya.
Kota yang baik adalah kota yang membuat manusia bisa bergerak dengan aman—dengan mobil, motor, sepeda, berjalan kaki, atau apa pun yang membawanya pulang.
Malam itu, Garut mengayuh.
Dan mungkin, untuk pertama kalinya, kota ini mendengar suara yang selama ini terlalu pelan:
WE ARE TRAFFIC.
Kami bukan penghalang jalan.
Kami adalah bagian dari jalan itu sendiri. (*)