• 29 May, 2026

Satp_am: Teror Bertopeng dari Garut dengan Mantra Huruf “A”

Satp_am: Teror Bertopeng dari Garut dengan Mantra Huruf “A”

Mediamassa.id - Di antara dinginnya malam Garut dan bising tongkrongan jalanan yang dipenuhi asap, tawa, dan ampli pecah, lahir segerombolan monster yang tak pernah benar-benar ingin terlihat sebagai manusia biasa. Mereka bernama Satp_am.

Band cadas asal Garut, Jawa Barat ini merupakan reinkarnasi dari Sakadang Ajag, unit underground yang sudah bergerak sejak 2010. Dari awal kemunculannya, mereka memang tidak pernah berjalan di jalur musik yang normal. Musik mereka keras, liar, kadang absurd, tapi selalu terasa hidup seperti suara tongkrongan kelas pinggiran yang tumbuh bersama kebisingan kota kecil.

Formasi awal Sakadang Ajag diisi oleh Emoh pada gitar, Haris Beor di bass, Yundaes pada drum, serta Keuyeup di posisi vokal. Dari tongkrongan dan kebisingan kecil itulah fondasi awal band ini dibangun. Musik cadas mereka tumbuh secara organik—liar, mentah, tanpa banyak aturan, khas skena bawah tanah Garut era itu.

Seiring perjalanan waktu, terjadi banyak perubahan formasi yang justru membentuk karakter Satp_am hari ini. Ketika Keuyeup mulai sibuk, posisi vokal kemudian digantikan oleh Qdoy. Setelah itu, masuk sosok Teguh Yakuza (alm.) sebagai gitar kedua, lalu disusul Tuponk yang mengisi gitar ketiga. Formasi ini sempat menjadi fase penting dalam perkembangan musikal mereka, ketika sound band mulai semakin padat, semakin berisik, dan makin eksploratif.

Dalam perjalanan panjangnya, beberapa nama dari lingkar skena Garut juga sempat ikut mengisi tubuh Sakadang Ajag meski hanya sebentar. Amy dari T.U.T.A.B pernah singgah dan menjadi bagian dari perjalanan Sakadang Ajag dalam satu fase awal yang singkat. Begitu pula Bono dari T.U.T.A.B yang juga sempat terlibat dalam perjalanan liar mereka. Walau tidak berlangsung lama, kehadiran mereka menjadi bagian dari serpihan sejarah yang ikut membentuk energi kolektif band ini di masa awal.

Namun perjalanan bawah tanah memang tidak pernah benar-benar mulus.

Tidak lama berselang, Yundaes memutuskan resign. Haris Beor pun kemudian keluar dari band. Hingga akhirnya kabar duka datang ketika Teguh Yakuza berpulang untuk selamanya. Kepergian almarhum menjadi salah satu jejak emosional yang membekas dalam perjalanan band ini.

Tapi seperti monster yang menolak mati, mereka terus bergerak.

Pada 2014, mereka merilis album perdana bertajuk “Bagja Salawasna” di bawah naungan Taianjing Records bersama kolektif Retas Asa. Lalu pada 2019, mereka kembali muncul lewat album kedua dengan judul yang sama gilanya: “Bangsat Jadah Rasa Ayam Bawang”.

Formasi Satp_am saat ini diisi oleh Dhanie Tuponk dan Qdoy pada vokal, Gilang Ugil sebagai DJ, Wiwit dan Aldy di lini gitar, Army pada bass, serta Nova di belakang drum. Kombinasi personel ini melahirkan warna musik yang liar dan sulit ditebak—percampuran cadas jalanan, nu metal, punk, hip hop, hingga energi underground yang terasa sangat mentah namun penuh karakter.

“Urang mah teu hayang katingali sampurna. Nu penting mah bising, jujur, jeung tetep bisa seuri di tengah hirup nu beuki lieur,” celetuk salah satu personel Satp_am sambil tertawa di sela tongkrongan mereka.

(“Kami tidak ingin terlihat sempurna. Yang penting tetap berisik, jujur, dan masih bisa tertawa di tengah hidup yang makin kacau.”)

Kalimat itu mungkin cukup menjelaskan siapa Satp_am sebenarnya.

Namun Satp_am bukan sekadar band cadas biasa.

Ada identitas liar yang membuat mereka sulit disamakan dengan band lain di skena bawah tanah.

Yang pertama adalah soal bahasa. Hampir seluruh judul lagu, nama album, hingga permainan lirik mereka selalu dipenuhi dominasi huruf “A”. Seolah-olah huruf lain sengaja dibuang dari semesta mereka. Kata-kata dipelintir, dibentuk aneh, terdengar seperti mantra jalanan yang mabuk namun tetap punya makna.

Bukan gimmick. Bukan sekadar lucu-lucuan.

Itu sudah menjadi semacam ritual artistik bagi Satp_am.

“Huruf A mah siga sora jalma keur ngagorowok. Basajan, kasar, tapi nanceb,” ujar Qdoy setengah bercanda.

(“Huruf A itu seperti suara orang sedang berteriak. Sederhana, kasar, tapi menancap.”)

Mereka seperti sedang membangun dunia sendiri—dunia yang kacau, satir, tapi tetap terasa dekat dengan realitas anak-anak bawah tanah yang tumbuh tanpa banyak aturan.

Dan kegilaan itu tidak berhenti di musik saja.

Ketika tampil di atas panggung, seluruh personel Satp_am selalu memakai topeng.

Tidak ada wajah yang benar-benar diperlihatkan ke publik. Yang muncul hanyalah sosok-sosok asing dengan rupa menyeramkan, kadang absurd, kadang terasa seperti monster dari mimpi buruk tongkrongan tengah malam.

Topeng bagi Satp_am bukan aksesori panggung murahan untuk terlihat sangar.

Topeng adalah identitas.

Sebuah simbol bahwa musik mereka bukan tentang individu, bukan tentang siapa paling terkenal, siapa paling keren, atau siapa paling ingin dilihat kamera. Yang mereka bangun adalah energi kolektif, kekacauan bersama, dan karakter liar yang hidup di atas panggung.

“Mun beungeut dibuka, engke siga band kondangan,” canda personel lainnya.

(“Kalau wajah dibuka, nanti malah seperti band hajatan.”)

Saat lampu redup dan distorsi mulai meraung, Satp_am berubah seperti kawanan makhluk yang keluar dari lorong gelap. Penonton bukan hanya menonton konser, tapi seperti masuk ke dalam semacam ritual bising penuh tawa sinis dan amarah jalanan.

Di tengah banyaknya band yang sibuk membangun estetika steril demi media sosial, Satp_am justru tampil seperti antitesisnya: kotor, misterius, jenaka, dan brutal dalam waktu bersamaan.

Mereka tidak mencoba menjadi modern. Tidak pula sibuk mengejar validasi industri.

Mereka hanya terus hidup di jalur bawah tanah dengan caranya sendiri.

Memakai topeng, meneriakkan huruf “A”, lalu membiarkan musik cadas mereka berjalan seperti monster liar dari Garut yang menolak jinak. (*)

Official:
Instagram: @satp_am.ina
YouTube: satpamofficial

Contact Person:
0882-0066-9502