Mediamassa.id - Di tengah derasnya arus musik yang terus berubah, The Puspas memilih berjalan dengan ritme mereka sendiri. Tidak terburu-buru mengikuti tren, tetapi juga tidak berhenti melangkah. Bagi trio alternative rock asal Bekasi ini, perjalanan bermusik bukan sekadar soal merilis lagu, melainkan tentang menjaga komitmen, kejujuran, dan energi untuk terus berkarya.
Resmi terbentuk pada 2023, The Puspas beranggotakan Abraham Manalu (vokal dan bass), Irwan Sanjaya (gitar), serta Mario Abhimantra (drum). Berangkat dari latar belakang dan karakter yang berbeda, mereka dipertemukan oleh satu keyakinan yang sama: musik akan selalu menemukan jalannya jika dikerjakan dengan hati.

Nama The Puspas sendiri diambil dari kata puspas dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia yang berarti campur aduk. Bagi mereka, kata tersebut bukan sekadar nama, tetapi filosofi. Beragam pengalaman hidup, karakter, dan referensi musik berpadu menjadi identitas yang terus mereka bangun dari satu karya ke karya berikutnya.
Pilihan mereka jatuh pada alternative rock dengan sentuhan rock modern. Riff gitar yang tegas, ritme yang solid, melodi yang mudah dinikmati, serta lirik yang dekat dengan kehidupan menjadi ciri khas yang perlahan mulai dikenali pendengar.
Single ketiga mereka, "Energi", menjadi gambaran paling utuh tentang arah musikal The Puspas saat ini. Lagu tersebut lahir dari pengalaman pribadi sekaligus pengamatan terhadap kehidupan sehari-hari, tentang bagaimana setiap orang pernah berada di titik lelah, namun tetap memiliki kesempatan untuk bangkit.

Menurut Abraham Manalu, "Energi" adalah lagu yang sangat personal, tetapi ia percaya pesannya bersifat universal.
"Kami semua pernah ada di fase ketika usaha terasa tidak dihargai dan waktu seperti berjalan sia-sia. Lewat 'Energi', kami ingin mengingatkan bahwa setiap perjuangan selalu punya arti. Mungkin hasilnya tidak datang hari ini, tapi suatu saat semuanya akan menemukan maknanya."
Pesan itu dipertegas melalui bagian reff yang menjadi inti lagu:
"Segala usahamu,
Semua waktumu,
Setiap teriakmu,
Akan menjadi arti."
Empat baris sederhana tersebut menjadi pengingat bahwa setiap usaha, sekecil apa pun, akan menjadi bagian penting dari perjalanan hidup seseorang.
Secara musikal, karakter "Energi" juga menunjukkan perkembangan The Puspas. Irwan Sanjaya, yang banyak membangun warna gitar dalam lagu-lagu mereka, mengatakan bahwa proses kreatif selalu dimulai dari ide yang sangat sederhana.
"Kadang cuma berawal dari satu riff gitar atau potongan melodi. Setelah itu kami olah bersama sampai benar-benar terasa utuh. Yang paling penting buat kami bukan membuat lagu yang rumit, tapi lagu yang jujur dan bisa dirasakan oleh banyak orang."
Meski banyak dipengaruhi band-band alternative rock dari Indonesia maupun luar negeri, Irwan menegaskan bahwa The Puspas tidak pernah ingin menjadi salinan dari siapa pun.
"Kami belajar dari banyak musisi, tapi tujuan akhirnya adalah menemukan suara kami sendiri. Identitas itu yang terus kami jaga."
Di balik dinamika kreatif, perjalanan sebuah band tentu tidak lepas dari tantangan. Bagi The Puspas, tantangan terbesar justru datang dari kehidupan sehari-hari. Kesibukan pekerjaan dan aktivitas pribadi membuat mereka harus pandai membagi waktu agar band tetap berjalan.
Namun, menurut Mario Abhimantra, justru di situlah kekuatan The Puspas diuji.
"Kami sama-sama punya tanggung jawab di luar band. Karena itu, setiap kali berkumpul untuk latihan atau membuat lagu baru, semuanya terasa sangat berharga. Komitmen, komunikasi, dan saling percaya membuat kami tetap bisa melangkah bersama."
Mario juga mengaku, momen paling berkesan bukanlah ketika tampil di panggung besar, melainkan saat melihat penonton mulai menyanyikan lagu-lagu mereka.
"Saat ada orang yang ikut bernyanyi atau datang setelah manggung lalu bilang lagu kami menemani mereka melewati masa sulit, itu rasanya luar biasa. Di situ kami merasa musik benar-benar sampai kepada pendengarnya."
Ke depan, The Puspas memilih melangkah secara bertahap. Mereka tengah menyiapkan beberapa single baru sebagai fondasi sebelum merilis EP atau album penuh. Strategi tersebut dipilih agar setiap karya memiliki ruang untuk tumbuh dan menemukan pendengarnya.
Dalam tiga hingga lima tahun ke depan, mereka berharap dapat menjangkau lebih banyak penikmat musik di seluruh Indonesia, tampil di berbagai festival nasional, serta terus menghadirkan karya yang mampu bertahan melampaui waktu.
Dalam waktu dekat, The Puspas dijadwalkan tampil di Pamulang Distorsick pada 26 Juli 2026 di Moza BarBar, Pamulang. Penampilan tersebut menjadi kesempatan berikutnya bagi mereka untuk membagikan energi yang selama ini dituangkan dalam setiap lagu.
Bagi The Puspas, musik bukan sekadar hiburan. Musik adalah ruang untuk berbagi cerita, menyampaikan harapan, dan mengingatkan bahwa setiap perjuangan selalu memiliki arti. Melalui "Energi", mereka tidak sedang menawarkan jawaban atas kerasnya hidup, tetapi mengajak setiap pendengar untuk terus percaya bahwa langkah sekecil apa pun tetap layak diperjuangkan.
Sebab, seperti pesan yang mereka gaungkan dalam lagu itu, semua usaha, semua waktu, dan setiap teriakan, pada akhirnya akan menjadi arti.