• 09 May, 2026

Ansor Jakut Soroti Ucapan Rizieq, Minta Ruang Publik Dijaga

Ansor Jakut Soroti Ucapan Rizieq, Minta Ruang Publik Dijaga

Jakarta, mediamassa.id - Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda (GP) Ansor Jakarta Utara mengecam pernyataan bernada penghinaan yang dilontarkan seorang tokoh agama terhadap Kepala Staf Kepresidenan, Dudung Abdurachman.

Ketua GP Ansor Jakarta Utara, Muh Sufyan Hadi, menilai ucapan bernada cacian di ruang publik tidak hanya mencederai etika, tetapi juga berpotensi memperkeruh suasana kebangsaan di tengah masyarakat yang masih rentan terpolarisasi.

Menurutnya, kritik dalam negara demokrasi merupakan hal yang wajar dan dijamin konstitusi. Namun, kritik seharusnya disampaikan secara bermartabat tanpa merendahkan kehormatan pribadi seseorang.

“Demokrasi memberikan ruang untuk berbeda pendapat, tetapi bukan untuk menghina atau menyerang pribadi dengan kata-kata yang tidak pantas,” ujar Sufyan dalam keterangannya, Rabu (6/5/2026).

Ia menegaskan, tokoh agama semestinya menjadi teladan dalam menjaga tutur kata dan menghadirkan kesejukan di tengah masyarakat. Karena itu, penggunaan istilah yang bernada merendahkan dinilai tidak mencerminkan sikap seorang panutan umat.

“Ucapan provokatif dari figur publik sangat mudah ditiru masyarakat, terutama generasi muda. Ini yang harus menjadi perhatian bersama,” katanya.

Sufyan juga mengingatkan bahwa ruang publik saat ini membutuhkan narasi persatuan, bukan saling serang yang dapat memperlebar perpecahan akibat perbedaan pandangan politik.

Ia mengajak seluruh elemen bangsa, mulai dari tokoh agama, pemuda, hingga masyarakat umum untuk mengedepankan adab dalam menyampaikan pendapat.

“Kritik boleh keras, tetapi persaudaraan kebangsaan dan etika harus tetap dijaga,” tegasnya.

Pernyataan tersebut muncul menyusul ucapan Habib Rizieq Shihab dalam sebuah tayangan di kanal YouTube Islamic Brotherhood Television yang menyinggung pidato Presiden Prabowo Subianto terkait fenomena “Indonesia Gelap”.

Dalam pernyataannya, Rizieq menyebut istilah “Jenderal Baliho” yang diduga mengarah kepada Dudung Abdurachman. Julukan itu dikaitkan dengan peristiwa penertiban atribut Front Pembela Islam (FPI) beberapa tahun lalu.

Menanggapi hal tersebut, Dudung menegaskan bahwa penertiban baliho saat itu dilakukan dalam rangka penegakan aturan setelah pemerintah resmi membubarkan FPI.

Ia juga memastikan secara pribadi tidak lagi memiliki persoalan dengan Rizieq Shihab.

“Jangan membangun narasi yang membuat masyarakat saling curiga dan saling memfitnah. Mari kita bangun bangsa ini dengan keteduhan,” ujar Dudung di Kantor KSP, Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (5/5/2026). (*)