• 30 Jul, 2026

Atsyal Rajab, Siswa SMAN 11 Garut Juara Nasional BMX

Atsyal Rajab, Siswa SMAN 11 Garut Juara Nasional BMX

Mediamassa.id – Bagi sebagian remaja, sepeda motor mungkin menjadi simbol kebebasan. Namun, bagi Atsyal Moch Rajab, sepeda motor justru menjadi jalan untuk mewujudkan mimpi yang lebih besar. 

Demi kembali menekuni BMX Freestyle, pelajar kelas XII-1 SMAN 11 Garut itu mengambil keputusan yang tidak banyak berani lakukan: menjual motornya sendiri agar bisa memiliki sepeda BMX yang layak.

Foto: Istimewa/dok. Atsyal Moch Rajab, @atsyalr (Instagram).

Keputusan itu kini terbayar lunas. Pada Kejuaraan Nasional (Kejurnas) BMX Freestyle 2026, Atsyal berhasil menjadi juara di kategori Men Park Junior, mengharumkan nama Kabupaten Garut di tingkat nasional.

Di tengah kesibukannya sebagai siswa sekolah menengah atas, Atsyal mampu membuktikan bahwa usia muda bukanlah penghalang untuk berprestasi. Ia membagi waktunya antara pendidikan dan latihan, sembari terus mengejar mimpi menjadi atlet BMX yang mampu bersaing di level yang lebih tinggi.

Di balik prestasi tersebut, tersimpan kisah tentang kegigihan, pengorbanan, dan keyakinan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bermimpi.

Dari Sepeda Seadanya

Atsyal mengenal BMX sejak duduk di bangku kelas IV sekolah dasar. Ketertarikannya muncul setelah melihat seorang tetangga yang rutin bermain BMX.

Foto: @atsyalr (Instagram)

"Saya melihat tetangga saya bermain BMX. Dari situ saya ikut-ikutan belajar dan sering mengikuti dia ke mana-mana saat bersepeda," kenangnya.

Karena keterbatasan ekonomi, saat itu ia hanya berlatih menggunakan sepeda seadanya. Semangatnya besar, tetapi peralatan yang dimiliki belum mampu mengimbangi keinginannya untuk berkembang.

Keadaan memaksanya berhenti bermain. Sejak kelas VI SD hingga kelas X, Atsyal meninggalkan dunia BMX karena tidak memiliki sepeda yang layak untuk digunakan.

Menjual Motor untuk Kembali Bermimpi

Kerinduan terhadap BMX ternyata tidak pernah benar-benar hilang.

Menjelang akhir tahun 2025, saat masih duduk di bangku kelas X, Atsyal mengambil keputusan besar. Ia menjual sepeda motor miliknya agar bisa membeli sepeda BMX dan kembali berlatih dari nol.

Keputusan itu bukan sekadar soal mengganti kendaraan, melainkan memilih antara kenyamanan dan mimpi.

"Saya memberanikan diri menjual motor, lalu mulai latihan lagi dari awal. Sampai sekarang saya tetap berlatih meski fasilitasnya masih minim," ujarnya.

Pilihan tersebut menjadi titik balik dalam perjalanan kariernya sebagai atlet.

Latihan di Tengah Keterbatasan

Perjalanan menuju Kejurnas 2026 bukanlah sesuatu yang mudah.

Atsyal memanfaatkan setiap waktu luang untuk berlatih. Tidak ada arena yang benar-benar memadai. Bahkan sepeda yang digunakan pun, menurutnya, belum sepenuhnya ideal untuk kebutuhan kompetisi.

"Tantangan terbesar saya adalah minimnya fasilitas dan sepeda yang masih kurang proper."
Kondisi itu sangat memengaruhi perkembangan kemampuannya. Sebagai atlet yang mengandalkan nomor park, keberadaan lintasan dengan standar yang baik menjadi kebutuhan utama.

"Pengaruhnya sangat besar, karena basic saya memang di park."
Meski begitu, ia memilih fokus pada apa yang bisa dilakukan, bukan pada apa yang belum dimiliki.

Persiapan Singkat, Hasil Maksimal

Menjelang Kejurnas, waktu persiapan yang dimiliki Atsyal terbilang singkat, hanya sekitar satu pekan.

Beruntung, selama berlatih ia telah menguasai sejumlah trik yang menjadi modal utama saat bertanding. Masa persiapan itu lebih banyak digunakan untuk mematangkan dan melancarkan kembali teknik-teknik yang sudah dikuasai.
Kerja keras tersebut membuahkan hasil. Ia berhasil tampil maksimal hingga meraih gelar juara nasional.

Bagi Atsyal, momen paling berkesan setelah kemenangan bukanlah ketika berdiri di podium, melainkan saat menerima ucapan selamat dari keluarga, rekan satu tim, dan teman-temannya.
“Itu yang paling membekas buat saya.”

Mencintai BMX karena Persaudaraan

Bukan hanya sensasi memacu adrenalin yang membuat Atsyal bertahan di dunia BMX.

Baginya, olahraga ini menghadirkan sesuatu yang lebih berharga, yaitu persaudaraan.
“Saya suka BMX karena teman-temannya dan olahraga ini tidak membosankan.”

Di arena latihan, ia menemukan keluarga baru yang saling mendukung dan tumbuh bersama.
Untuk urusan teknik, Atsyal memiliki beberapa trik favorit, seperti no hand, barspin, dan x-up one hand. Sementara sosok yang paling menginspirasinya adalah rider nasional Gilang Febriansyah, yang menjadi panutannya dalam mengembangkan kemampuan.

Baru Permulaan

Meski telah menyandang status juara nasional, Atsyal merasa pencapaiannya bukanlah garis akhir.

Ia ingin terus mengikuti berbagai kejuaraan, meningkatkan kemampuan, dan berlatih lebih keras agar mampu bersaing di level yang lebih tinggi.

Namun di balik target pribadinya, ia juga menyimpan harapan untuk perkembangan BMX Freestyle di Garut.

“Semoga pemerintah bisa memberikan fasilitas. Saya yakin masih banyak anak-anak yang punya bakat di BMX, tapi mereka butuh tempat untuk berkembang.”

Menurutnya, keberadaan sebuah BMX Park yang representatif akan membuka peluang lahirnya lebih banyak atlet berprestasi dari Garut.

Mengajak Anak Muda Berani Mencoba

Sebagai juara nasional, Atsyal tidak ingin prestasinya dinikmati sendiri. Ia berharap semakin banyak anak muda tertarik mengenal BMX Freestyle.

"Ayo main BMX. Selain bikin sehat, kita bisa ketemu banyak teman yang seru. Cobain dulu saja, BMX Freestyle itu tidak semenakutkan yang dibayangkan," katanya sambil tertawa.

Kisah Atsyal membuktikan bahwa mimpi tidak selalu membutuhkan jalan yang mudah. Kadang, mimpi lahir dari keberanian mengambil keputusan besar, berlatih tanpa mengeluh, dan tetap percaya pada proses meski fasilitas yang dimiliki jauh dari kata sempurna.

Kini, nama Atsyal Moch Rajab telah tercatat sebagai juara nasional. Perjalanan berikutnya masih panjang, tetapi satu hal sudah ia buktikan: keterbatasan tidak pernah mampu mengalahkan tekad yang terus dikayuh dengan sepenuh hati. (*)