Mediamassa.id - Di Garut, nama Ronny “Bono” sudah lama melekat dengan denyut musik bawah tanah. Ia dikenal sebagai vokalis T.U.T.A.B, band punk rock yang berdiri sejak 1996 dan masih terus aktif hingga hari ini. Di tengah banyaknya band yang datang lalu hilang, perjalanan T.U.T.A.B menjadi salah satu cerita panjang tentang konsistensi skena underground lokal—dan Bono adalah salah satu wajah yang terus menjaganya tetap hidup.
Sejak akhir 90-an, Bono tumbuh bersama kultur punk Garut yang berkembang lewat gigs kecil, studio latihan sederhana, hingga jaringan komunitas independen yang bergerak dengan semangat DIY. Saat itu, skena underground belum punya ruang besar seperti sekarang. Distribusi musik masih lewat kaset demo, poster acara dibuat fotokopian, dan informasi gigs menyebar dari mulut ke mulut.
Dalam obrolannya bersama komunitas skena lokal di Garut, Bono mengaku bahwa sejak awal T.U.T.A.B memang tidak pernah dibangun dengan orientasi industri.
“Dari awal kami main ya karena suka. Karena butuh ruang buat ngomong lewat lagu,” ujar Bono.
Kalimat itu terasa sederhana, tetapi cukup menggambarkan kenapa T.U.T.A.B bisa bertahan hampir tiga dekade. Band ini lahir dari kultur jalanan dan pertemanan, bukan dari perencanaan pasar atau strategi industri musik.
Sebagai vokalis, Bono dikenal dengan karakter suara yang kasar dan mentah. Ia tidak mencoba terdengar terlalu bersih atau teknis. Di atas panggung, pendekatannya juga sangat langsung. Tidak banyak jarak antara dirinya dan penonton. Dalam banyak gigs, Bono justru terlihat lebih seperti bagian dari crowd dibanding sosok frontman yang menjaga citra panggung.
Perjalanan panjang T.U.T.A.B sendiri tidak lepas dari perkembangan skena bawah tanah Garut sejak era 90-an. Di masa itu, musik punk dan underground sering dipandang sebelah mata. Namun justru dari ruang-ruang kecil itulah banyak komunitas tumbuh dan bertahan hingga sekarang.
Menurut Bono, salah satu hal yang membuat skena tetap hidup adalah solidaritas antar komunitas.
“Punk itu bukan cuma soal musik atau gaya. Yang paling penting sebenarnya solidaritas dan loyalitas antar teman,” katanya.
Di tengah perubahan zaman dan perkembangan teknologi musik digital, Bono mengakui banyak hal memang berubah. Produksi musik menjadi lebih mudah, distribusi lebih cepat, dan akses informasi jauh lebih luas dibanding era awal T.U.T.A.B berdiri. Namun ia juga melihat ada tantangan baru: menjaga semangat kolektif agar tidak hilang.
“Sekarang semua serba gampang. Tapi jangan sampai gampang juga lupa sama akar,” ujarnya.
T.U.T.A.B sendiri dikenal lewat lagu-lagu yang membawa semangat kritik sosial dan realitas jalanan, seperti “Penjara”, “Polishit”, “Teman Tapi Lawan”, hingga “ACAB”. Lagu-lagu itu menjadi bagian dari identitas mereka sebagai band punk yang tumbuh dari pengalaman sehari-hari, bukan sekadar mengikuti tren musik.
Meski usia band sudah mendekati tiga dekade, Bono masih tetap aktif tampil bersama T.U.T.A.B di berbagai gigs underground. Dari panggung kecil di Garut hingga acara komunitas lintas kota, ia masih berdiri di depan dengan energi yang relatif sama seperti masa-masa awal.
Di mata banyak pelaku skena lokal, konsistensi Bono menjadi salah satu simbol bahwa underground bukan sekadar fase muda yang selesai ketika usia bertambah. Ada orang-orang yang memang memilih tetap berada di jalur itu karena merasa bagian dari hidupnya tumbuh di sana.
Bono mungkin tidak muncul di arus utama industri musik nasional, tetapi di ruang bawah tanah Garut, namanya sudah menjadi bagian dari sejarah panjang punk lokal yang terus bergerak dari generasi ke generasi. (*)
Sumber:
Wawancara dan obrolan komunitas bersama Ronny “Bono” T.U.T.A.B, Garut, Mei 2026.