• 29 May, 2026

Denny “Emoh”: Gitaris T.U.T.A.B dan Holocaust, Pilar Skena Underground Garut

Denny “Emoh”: Gitaris T.U.T.A.B dan Holocaust, Pilar Skena Underground Garut

Mediamassa.id - Di skena musik bawah tanah Garut, nama Denny “Emoh” dikenal sebagai salah satu gitaris yang paling konsisten menjaga jalur keras musik underground sejak era 90-an. Sosoknya tidak banyak tampil di permukaan industri, tetapi justru tumbuh dan mengakar kuat di ruang-ruang kecil: gigs komunitas, panggung alternatif, dan skena jalanan yang menjadi nadi musik independen.

Berbeda dari banyak musisi yang memulai dari band awal lalu berpindah-pindah, perjalanan Emoh justru unik. Ia lebih dulu dikenal bersama T.U.T.A.B, sebelum kemudian menjadi bagian dari Holocaust, dua band yang sama-sama lahir dari denyut keras skena Garut dan berkembang di era yang berbeda.

T.U.T.A.B: Akar Awal Energi Jalanan

Di T.U.T.A.B, Emoh mulai membentuk identitas musikalnya. Band ini menjadi ruang awal di mana karakter permainannya terbentuk—kasar, langsung, dan tanpa banyak kompromi. T.U.T.A.B tumbuh dari atmosfer skena jalanan yang keras, di mana musik bukan sekadar hiburan, tetapi bentuk ekspresi dan perlawanan.

Sebagai gitaris, Emoh dikenal tidak mengejar permainan yang terlalu rapi. Ia lebih memilih riff yang mentah, padat, dan menghantam langsung ke depan. Di panggung-panggung T.U.T.A.B, gaya ini justru menjadi kekuatan utama—membuat energi band terasa dekat, liar, dan sulit diprediksi.

Di fase ini, Emoh menjadi bagian dari generasi skena Garut yang membangun fondasi awal musik keras lokal, ketika semua masih bergerak dengan keterbatasan alat, ruang, dan dukungan, tapi penuh semangat kolektif.

Holocaust: Perjalanan ke Fase yang Lebih Gelap

Setelah periode bersama T.U.T.A.B, Emoh kemudian melanjutkan perjalanan musikalnya bersama Holocaust. Di band ini, karakter musiknya berkembang ke arah yang lebih gelap dan berat, namun tetap mempertahankan ciri khas dasarnya: riff yang mentah dan pendekatan yang tidak terlalu “dipoles”.

Holocaust menjadi bagian penting dari fase perkembangan skena underground Garut di era 90-an hingga awal 2000-an, ketika banyak band mulai mencari identitas masing-masing di tengah perkembangan metal dan hardcore di Indonesia. Dalam konteks ini, Emoh tetap membawa gaya bermain yang tidak berubah: jujur, keras, dan langsung.

Konsistensi di Jalur Underground

Yang membuat nama Emoh tetap dihormati di skena bukan hanya karena band yang ia mainkan, tetapi karena konsistensinya bertahan di jalur underground selama puluhan tahun. Dari T.U.T.A.B hingga Holocaust, ia tidak pernah benar-benar keluar dari ekosistem yang sama.

Di saat banyak musisi berpindah arah atau mengejar ruang yang lebih komersial, Emoh tetap berada di lingkaran yang sama: panggung kecil, komunitas lokal, dan gigs yang dibangun dari semangat DIY. Hal ini membuatnya dikenal sebagai salah satu figur yang menjaga kesinambungan skena Garut agar tetap hidup.

Gaya Bermain dan Karakter Panggung

Secara musikal, Emoh dikenal dengan gaya gitar yang kasar, padat, dan langsung. Ia tidak banyak bermain dengan ornamen teknis yang rumit, tetapi lebih menekankan pada energi dan dorongan ritmis yang kuat. Permainannya terasa seperti “tekanan langsung” yang mendorong lagu ke depan tanpa jeda.

Di atas panggung, Emoh juga tidak menonjolkan diri secara berlebihan. Fokus utamanya ada pada musik, sementara interaksi dengan penonton terjadi secara natural melalui energi yang dibangun bersama band.

Tetap di Jalur yang Sama

Hingga sekarang, Denny “Emoh” tetap dikenal sebagai salah satu gitaris yang setia di jalur underground Garut. Perjalanannya dari T.U.T.A.B ke Holocaust menjadi gambaran bagaimana skena lokal dibangun bukan hanya oleh nama besar, tetapi oleh konsistensi orang-orang yang terus hadir dari awal hingga sekarang.

Di tengah perubahan zaman dan bergantinya generasi, Emoh tetap berada di jalur yang sama—jalur yang tidak selalu terlihat terang, tetapi menjadi fondasi penting bagi hidupnya musik bawah tanah Garut. (*)