• 07 Feb, 2026

Di Antara Distorsi dan Sunyi: Catatan Kecil Land of Terror

Di Antara Distorsi dan Sunyi: Catatan Kecil Land of Terror

Catatan dari Garut: Lirik, Sunyi, dan Panggung yang Sama Land of Terror di Bawah Tanah Fest Chapter 1 – 2026

Mediamassa.id - Di Garut, skena bawah tanah tidak pernah benar-benar hilang. Ia berpindah tempat, berganti wajah, tapi tetap hidup dari pertemuan-pertemuan kecil dan kejujuran yang dijaga.

Bawah Tanah Fest Chapter 1 – 2026 menjadi salah satu titik temu itu—bukan sebagai selebrasi besar, melainkan sebagai ruang berbagi suara.

Di antara band-band yang akan tampil, Land of Terror (LoT) membawa satu lagu dengan lirik yang terdengar sederhana, tapi menyimpan banyak jeda untuk berpikir.

“God is not man / God is not woman / God is not human / God is not Rock.”

Lirik ini tidak berdiri sebagai pernyataan keras. Ia hadir sebagai pengingat pelan—bahwa tidak semua hal harus kita beri bentuk, apalagi klaim.

LoT, band grindpunk asal Garut yang berdiri sejak 2014, menulis lagu ini dari pengalaman hidup di skena yang tumbuh dengan cara mandiri dan saling menjaga.

Bagi Andy Welder ‘Badoet’ (vokal), lagu ini lahir dari obrolan sehari-hari yang sering muncul di lingkaran kecil skena.

“Kami sering ngobrol soal banyak hal, termasuk keyakinan. Lagu ini bukan kesimpulan, tapi catatan dari proses itu,” katanya.

Di panggung bawah tanah, tidak ada jarak antara pemain dan penonton. Baris “God is not Rock” terasa relevan di ruang seperti itu—ruang yang hidup karena dialog, bukan kepastian. Qdoyz (vokal) melihat lirik ini sebagai ajakan untuk tetap membuka ruang dengar.

“Kalau semuanya sudah dibekukan, kita berhenti bertumbuh. Musik bawah tanah justru hidup dari pertanyaan,” ujarnya.

Ketika lagu bergerak ke bagian “Because cannot touching / Because cannot looking”, LoT tidak mengajak pendengar untuk meragukan, melainkan menerima keterbatasan. Suhe (drummer) memaknainya dengan cara sederhana.

“Di skena ini, banyak hal kita jalani tanpa tahu hasilnya. Tapi tetap dijalani karena itu yang kita percaya,” katanya.

Dua baris terakhir—“How if I am not hand / How if I am not eyes”—menjadi ruang sunyi di tengah distorsi. Bayu Carerra (gitar) menyebutnya sebagai pengingat agar tetap membumi.

“Di panggung semua setara. Tidak ada yang lebih tinggi. Mungkin itu juga pesan kecil dari lagu ini,” ucapnya.

Sementara John (bassist) melihat keterkaitan lagu ini dengan Bawah Tanah Fest secara alami.
“Festival ini bukan soal siapa paling besar. Sama seperti lagu ini, semuanya berjalan dari kejujuran,” katanya.

Setelah vakum, LoT kembali lewat EP 2024 dan album Petaka (2025). Kehadiran mereka di Bawah Tanah Fest Chapter 1 – 2026 bukan penanda kebangkitan yang dramatis, melainkan kelanjutan dari perjalanan panjang skena lokal yang bergerak pelan tapi konsisten.

Seperti zine yang dibaca di sudut venue, lagu ini tidak berteriak minta perhatian. Ia hadir di antara kebisingan, menawarkan ruang untuk berhenti sejenak—sebelum distorsi berikutnya dimulai.

Dan mungkin, itulah yang dirayakan Bawah Tanah Fest: bukan jawaban, tapi pertemuan. Bukan kepastian, tapi keberanian untuk tetap jujur. (*)

Reinhold Christiansen

Queen in a pleased tone. 'Pray don't trouble yourself to say to itself in a melancholy air, and.