Mengubah Informasi Menjadi Nilai Ekonomi
Oleh: Aris Kharisma
Disarankan:
Di sebuah sudut Jatinangor, ada media yang lahir bukan dari gedung megah, bukan pula dari ruang redaksi berpendingin udara yang dipenuhi istilah-istilah asing. Ia tumbuh dari kebiasaan yang sederhana: membaca, mengamati, lalu menulis. Kadang sambil ngopi, kadang sambil menggerutu melihat keadaan.
Namanya mediamassa.id.
Di baliknya ada dua orang yang bisa dibilang sama-sama mengidap penyakit yang belum ditemukan obatnya: penulis kambuhan. Gejalanya muncul tiba-tiba. Saat orang lain memilih tidur, mereka justru sibuk menyusun paragraf. Ketika isu publik mulai ramai, tangan mereka gatal ingin mengetik. Kalau sehari tidak menulis, rasanya ada yang kurang. Bukan karena dikejar target semata, tetapi karena merasa ada cerita yang belum selesai disampaikan.
Dua orang itu adalah…. Ya, sudahlah. Sebut saja mereka Haha dan Hihi.
Keduanya bukan manusia paling benar. Juga bukan orang yang selalu paling cepat. Mereka hanya berusaha menjadi dua pasang mata yang terus mengamati, dua pasang telinga yang masih mau mendengar, lalu menuangkannya menjadi tulisan yang bisa dipahami banyak orang.
Di era ketika judul berita sering lebih dramatis daripada isinya, mediamassa.id memilih jalan yang mungkin tidak terlalu ramai tepuk tangan. Jalan yang percaya bahwa fakta tidak perlu didandani berlebihan agar tetap menarik dibaca.
Tentu, bukan berarti mereka anti kritik. Justru sebaliknya. Kritik adalah menu harian. Bedanya, kritik diusahakan tidak berubah menjadi caci maki. Sebab, terlalu banyak orang sibuk mencari siapa yang salah, sementara terlalu sedikit yang mau menjelaskan mengapa sesuatu bisa terjadi.
Ada yang bertanya, "Mediamassa.id itu media apa?"
Jawabannya sederhana.
Media yang percaya berita bukan sekadar mengejar siapa paling cepat mengunggah. Karena informasi yang datang lima menit lebih awal, tetapi lima jam kemudian terbukti keliru, tetap saja tidak bisa disebut kemenangan.
Di sisi lain, mediamassa.id juga tidak bercita-cita menjadi pengeras suara siapa pun. Sebab ketika media terlalu dekat dengan kekuasaan, publik akan kehilangan jendela. Dan ketika media terlalu sibuk memusuhi kekuasaan tanpa data, ia hanya berganti peran menjadi penonton yang berisik.
Jarak adalah kemewahan yang harus dijaga.
Ironisnya, menjaga jarak justru sering membuat media dianggap "kurang berpihak". Padahal berpihak kepada kepentingan publik tidak selalu berarti memuji atau memukul. Kadang cukup dengan bertanya. Kadang cukup dengan menyajikan data. Kadang cukup dengan tidak ikut-ikutan membuat kegaduhan.
Di negeri ini, kabar sering kalah cepat oleh kabar-kabaran. Isu lebih laris daripada verifikasi. Judul bombastis lebih disukai daripada isi yang lengkap. Bahkan, tidak sedikit orang yang merasa sudah memahami sebuah berita hanya dari membaca judulnya.
Mungkin memang zaman sedang terburu-buru.
Karena itu, pekerjaan media menjadi semakin aneh. Mereka diminta cepat, tetapi harus akurat. Diminta kritis, tetapi jangan dianggap menyerang. Diminta independen, tetapi kalau hasil liputannya tidak sesuai harapan, langsung dicap berpihak.
Profesi yang unik.
Namun begitulah medan yang dipilih mediamassa.id.
Bukan berarti selalu berhasil. Ada kekurangan. Ada salah ketik. Ada sudut pandang yang mungkin luput. Sebab media juga dikerjakan manusia, bukan mesin yang hidup dari algoritma.
Yang membedakan hanyalah kemauan untuk terus memperbaiki.
Kedua orang ini mungkin tetap akan menjadi penulis kambuhan. Besok, lusa, atau tahun depan, penyakit itu tampaknya belum akan sembuh. Selama masih ada persoalan yang perlu dijelaskan, kebijakan yang perlu dikritisi, dan cerita baik yang layak dibagikan, kambuh itu justru menjadi pertanda sehat.
Pada akhirnya, mediamassa.id mungkin tidak akan menjadi media paling besar. Tidak juga paling gaduh. Tetapi setidaknya ia berusaha menjadi media yang masih percaya bahwa jurnalisme bukan tentang siapa yang paling keras bersuara, melainkan siapa yang paling bertanggung jawab atas setiap kata yang diterbitkan.
Kalau pun suatu hari orang bertanya, "Apa sebenarnya pekerjaan media?"
Jawabannya mungkin sesederhana ini:
Mengingatkan ketika semua mulai lupa.
Bertanya ketika semua terlalu yakin.
Dan tetap menulis, meski kadang hanya dibaca sampai paragraf kedua. (*)
Oleh: Aris Kharisma