Mediamassa.id - Di tengah banyak band yang lahir dan kemudian menghilang ditelan waktu, ada sebagian yang memilih bertahan bukan karena mengejar popularitas, tetapi karena memiliki ikatan yang lebih kuat dari sekadar musik.
T.U.T.A.B adalah salah satunya.
Berdiri pada 1996 di Garut, T.U.T.A.B menjadi bagian dari perjalanan panjang skena bawah tanah yang tumbuh dari semangat kolektif, persahabatan, dan kultur Do It Yourself. Hampir tiga dekade berjalan, band punk ini melewati berbagai fase, mulai dari pergantian personel, perubahan zaman, hingga bergesernya wajah industri musik.
Namun satu hal tetap bertahan: semangat untuk terus bermain, menciptakan karya, dan menjaga identitas yang sejak awal mereka bangun.
T.U.T.A.B bukan hanya tentang lagu-lagu yang dimainkan di atas panggung. Ia adalah cerita tentang orang-orang yang memilih tetap berada di jalur yang sama, meski waktu terus bergerak.

Table of contents [Show]
Awal Perjalanan: Lahir dari Skena Garut 1996
Ketika T.U.T.A.B berdiri pada 1996, ekosistem musik bawah tanah belum seperti sekarang. Belum ada kemudahan distribusi digital, belum ada media sosial sebagai ruang promosi, dan akses terhadap referensi musik masih sangat terbatas.
Sebuah band tumbuh dari ruang latihan sederhana, jaringan pertemanan, kaset yang berpindah tangan, hingga gigs kecil yang menjadi tempat bertemu komunitas.
Dalam kondisi itu, T.U.T.A.B lahir dengan formasi awal:
- Joy – drum
- Ronny "Bono" – vokal
- Denny "Emoh" – gitar
- Fajar – bass
Formasi pertama inilah yang menjadi fondasi awal perjalanan T.U.T.A.B. Dengan karakter punk yang lugas dan energi khas anak muda saat itu, mereka mulai membangun identitas di tengah perkembangan skena bawah tanah Garut.
Bagi mereka, musik bukan sekadar hiburan.
Ia menjadi ruang untuk menyampaikan keresahan, pandangan, dan cerita dari lingkungan sekitar.
Pergantian Formasi dan Perjalanan Panjang
Seperti banyak band yang memiliki perjalanan panjang, T.U.T.A.B juga mengalami dinamika personel.
Pada periode 1998–2000, formasi mengalami perubahan dengan masuknya:
- Joy – drum
- Bono – vokal
- Gobel – vokal
- Emoh – gitar
- Abah – bass

Kehadiran Gobel memberikan warna baru pada lini vokal T.U.T.A.B. Pada periode ini, band semakin aktif memperluas jaringan dan memperkuat keberadaannya di skena bawah tanah.
Memasuki periode 2000–2005, T.U.T.A.B kembali mengalami perubahan.
Formasi tetap bertumpu pada:
- Bono – vokal
- Emoh – gitar
Sementara posisi drum diisi oleh beberapa pemain tambahan, yaitu:
- Doyok
- Yundas
- Ncur
- Dani Bool
- Ari Vampirr
Untuk posisi bass, T.U.T.A.B diperkuat oleh Ikbal sebagai additional bass.
Meski tidak berada dalam formasi tetap, fase ini menunjukkan bahwa T.U.T.A.B tetap berjalan dan menjaga eksistensinya.
Bagi sebuah band independen, bertahan bukan hanya soal memiliki formasi ideal, tetapi bagaimana setiap orang yang datang dapat memberikan kontribusi bagi perjalanan bersama.
Pada periode 2006–2015, T.U.T.A.B memasuki fase baru dengan formasi:
- Angky – drum
- Bono – vokal
- Gobel – vokal
- Emoh – gitar
- Eza – bass
- Fahmi – gitar
Formasi ini menjadi salah satu periode penting karena T.U.T.A.B kembali menunjukkan produktivitasnya.
Pada fase ini, mereka tidak hanya tampil di berbagai panggung, tetapi juga menghasilkan karya yang menjadi dokumentasi perjalanan band.
Setelah melewati berbagai perubahan, formasi berikutnya kembali mengalami penyesuaian.
Posisi drum kemudian dimainkan oleh beberapa personel, yaitu:
- Ropi
- Joy
- Angky
Sementara komposisi utama:
- Bono – vokal
- Emoh – gitar
- Eza – bass

menjadi bagian dari perjalanan T.U.T.A.B hingga sekarang.
Pergantian personel tidak membuat karakter band hilang. Justru menjadi bagian dari cerita panjang bagaimana sebuah band bertahan melewati waktu.
Jejak Rilisan T.U.T.A.B
Selain perjalanan panggung, T.U.T.A.B juga meninggalkan dokumentasi melalui sejumlah rilisan.
Karya pertama mereka hadir melalui:
Ampar Pisang
Demo EP – Unrecords (1996)
Rilisan ini menjadi awal dokumentasi perjalanan T.U.T.A.B.
Kemudian dilanjutkan dengan:
Anarchys The Destroyer
Kanch Production (1998)
Memasuki era 2000-an, T.U.T.A.B semakin aktif merilis karya bersama Tai Anjing Records, yaitu:
The Power of Equality
Tai Anjing Records (2000)
Injak Balik
Tai Anjing Records (2002)
Sepuluh Tahun Kemudian
Tai Anjing Records (2006)
Satu dekade perjalanan T.U.T.A.B kemudian dirangkum dalam rilisan:
We Still Stand Here
Tai Anjing Records (2015)
Rilisan tersebut kemudian kembali diproduksi oleh:
Homeboys From Hell Records (2018)
Judul We Still Stand Here terasa seperti pernyataan sikap T.U.T.A.B setelah melewati berbagai fase.
Kami masih berdiri di sini.
Sebuah kalimat sederhana yang menggambarkan perjalanan hampir tiga puluh tahun.
Bertahan Bukan Karena Mudah
Menjaga sebuah band tetap hidup selama puluhan tahun bukan pekerjaan mudah.
Setiap personel memiliki kehidupan masing-masing. Ada pekerjaan, keluarga, dan tanggung jawab lain di luar musik.
Namun bagi T.U.T.A.B, kekuatan utama mereka sejak awal bukan hanya lagu.
Melainkan hubungan antarorang di dalamnya.
Persahabatan menjadi alasan utama mengapa mereka tetap bisa berkumpul, latihan, dan kembali berdiri di atas panggung.
Karena pada akhirnya, sebuah band bisa bertahan bukan hanya karena kemampuan bermain musik.
Tetapi karena ada alasan untuk tetap bersama.
Menyambut 30 Tahun T.U.T.A.B
Perjalanan panjang tersebut akan memasuki babak baru pada September 2026.
T.U.T.A.B direncanakan akan menggelar launching album terbaru sebagai penanda perjalanan mereka setelah hampir tiga dekade berada di jalur independen.
Tidak hanya album, momen tersebut juga akan dibarengi dengan peluncuran sebuah buku yang menceritakan perjalanan 30 tahun T.U.T.A.B.
Buku tersebut ditulis oleh Erwin Rustandi Widiagiri atau Gobel, mantan vokalis T.U.T.A.B yang pernah menjadi bagian penting dalam perjalanan band pada periode 1998–2000 dan 2006–2015.
Melalui buku tersebut, Gobel mencoba merekam perjalanan T.U.T.A.B secara lebih personal.
Bukan hanya tentang album dan pergantian personel, tetapi juga tentang perjalanan pertemanan, panggung-panggung kecil, proses kreatif, serta bagaimana sebuah band bawah tanah dapat bertahan selama tiga dekade.
Buku itu menjadi arsip perjalanan sebuah band sekaligus dokumentasi kecil tentang perkembangan skena bawah tanah Garut.
Masih Berdiri

T.U.T.A.B telah melewati banyak hal.
Personel datang dan pergi.
Zaman berubah.
Cara orang menikmati musik berganti.
Namun semangat yang melahirkan band ini pada 1996 masih tetap ada.
Karena bagi T.U.T.A.B, bertahan bukan tentang melawan waktu.
Tetapi tentang tetap setia pada sesuatu yang mereka percaya sejak awal.
Dari ruang latihan sederhana hingga panggung yang lebih besar.
Dari kaset demo hingga rilisan fisik.
Dari generasi lama hingga generasi baru.
T.U.T.A.B masih berdiri.
Masih membuat lagu.
Masih bermain.
Dan masih menjaga api yang mereka nyalakan sejak 1996. (*)
Sumber: Wawancara dan dokumentasi perjalanan T.U.T.A.B, 2026.