• 04 Aug, 2026

Jack Dorsey, Anarcho, dan Paradoks Teknologi Terbuka

Jack Dorsey, Anarcho, dan Paradoks Teknologi Terbuka

Mediamassa.id - Belakangan ini, nama Jack Dorsey kembali ramai diperbincangkan. Bukan karena Twitter atau X, melainkan karena pandangannya terhadap Bitcoin, open source, dan protokol terbuka seperti Nostr. Sebagian orang bahkan menyebut Dorsey sebagai sosok yang berhasil menerapkan konsep anarcho ke dalam dunia teknologi.

Namun, benarkah demikian?

Jawabannya tidak sesederhana "ya" atau "tidak".

Secara ideologi, Jack Dorsey bukanlah seorang anarkis dalam pengertian politik klasik. Ia tidak dikenal sebagai pemikir yang menyerukan penghapusan negara atau seluruh bentuk otoritas. Sebaliknya, ia adalah seorang pengusaha teknologi yang membangun perusahaan bernilai miliaran dolar dengan struktur korporasi yang jelas.

375787.png

Meski begitu, sejumlah gagasan yang ia dukung memang memiliki irisan dengan tradisi anarcho-cypherpunk. Dorsey secara terbuka mendukung protokol terbuka, pengembangan perangkat lunak open source, serta Bitcoin sebagai jaringan yang tidak bergantung pada satu otoritas pusat. Dalam konteks ini, yang diperjuangkan bukan kekacauan, melainkan distribusi kekuasaan agar tidak terkonsentrasi pada satu institusi.

Namun, di sinilah letak paradoksnya.

Teknologi yang terbuka tidak otomatis melahirkan masyarakat yang setara. Kode program memang bisa diakses siapa saja, tetapi kemampuan untuk mengembangkan, memengaruhi arah proyek, atau membangun infrastruktur tetap tidak dimiliki secara merata. Pada akhirnya, distribusi kekuasaan juga ditentukan oleh akses terhadap pengetahuan, modal, jaringan, dan sumber daya.

Artinya, desentralisasi teknologi tidak selalu berarti desentralisasi kekuasaan.

Perspektif lain yang tak kalah penting adalah melihat sejarah perkembangan teknologi itu sendiri. Banyak inovasi besar lahir dari komunitas kecil yang idealis. Linux, internet, hingga berbagai proyek open source tumbuh dari semangat kolaborasi, eksperimen, dan berbagi pengetahuan.

Namun ketika teknologi tersebut mulai digunakan oleh jutaan orang, tantangannya berubah. Keamanan, pendanaan, tata kelola, hingga tanggung jawab publik menjadi persoalan yang tidak bisa dihindari. Di titik inilah idealisme sering kali harus bernegosiasi dengan realitas.

Karena itu, mungkin pertanyaan yang lebih menarik bukanlah apakah Jack Dorsey berhasil menerapkan konsep anarcho secara murni. Yang lebih penting adalah sejauh mana nilai-nilai seperti keterbukaan, transparansi, partisipasi, dan distribusi kekuasaan tetap bisa dipertahankan ketika sebuah teknologi tumbuh menjadi ekosistem global.

Sejarah menunjukkan bahwa hampir semua gerakan alternatif menghadapi dilema yang sama. Ketika masih kecil, mereka bebas bereksperimen. Ketika membesar, mereka mulai berhadapan dengan regulasi, kepentingan ekonomi, dan tuntutan keberlanjutan.

Dengan demikian, perdebatan mengenai Jack Dorsey sesungguhnya bukan hanya tentang satu tokoh. Ia mencerminkan pertanyaan yang jauh lebih besar: apakah teknologi benar-benar mampu mendistribusikan kekuasaan, atau hanya memindahkannya dari satu pusat ke pusat yang lain?

Barangkali, di situlah diskusi mengenai anarcho dalam era digital menemukan relevansinya. Bukan sebagai upaya mencari sistem yang sepenuhnya tanpa kontrol, melainkan sebagai pengingat bahwa setiap teknologi perlu terus dikritisi agar tidak mengulang pola kekuasaan yang sebelumnya ingin dihindari. (*)