Mediamassa.id - Kesundaan bukan sekadar identitas etnis atau penanda geografis. Ia adalah cara pandang hidup—tentang hubungan manusia dengan alam, sesama, dan semesta.
Dalam kesundaan, hidup tidak ditujukan untuk menaklukkan, melainkan menjaga keseimbangan.
Prinsip silih asah, silih asih, silih asuh bukan slogan moral, melainkan fondasi peradaban yang tumbuh dari pengalaman panjang manusia Nusantara berhadapan dengan alam yang subur sekaligus ganas.
Dalam konteks inilah, wacana tentang Lemuria dan Atlantis sering kembali mengemuka. Keduanya kerap diperdebatkan: antara mitos, spekulasi, dan ingatan kolektif tentang peradaban kuno yang hilang.
Atlantis dikenal luas melalui Plato sebagai peradaban besar yang tenggelam akibat kesombongannya sendiri.
Sementara Lemuria—atau Mu—lebih sering dikaitkan dengan kawasan Samudra Hindia dan Pasifik, termasuk wilayah yang kini kita sebut Nusantara.
Menariknya, ketika wacana Lemuria dikaitkan dengan kesundaan, yang muncul bukan klaim keunggulan ras atau kebesaran masa lalu yang romantik, melainkan pertanyaan yang lebih dalam: apakah Nusantara pernah menjadi pusat peradaban awal manusia yang hidup selaras dengan alam?
Dalam banyak tradisi Sunda kuno—pantun, carita pantun, hingga kosmologi Sunda Wiwitan—alam tidak pernah diposisikan sebagai objek eksploitasi.
Gunung, laut, hutan, dan sungai diperlakukan sebagai entitas hidup yang memiliki ruh dan martabat. Ini berbeda dengan narasi Atlantis dalam versi Plato, yang runtuh karena kerakusan dan kehilangan harmoni dengan tatanan kosmos.
Di titik ini, Lemuria dan Atlantis bisa dibaca bukan sebagai peta geografis semata, melainkan sebagai simbol dua jalan peradaban. Atlantis mewakili peradaban yang maju secara material namun runtuh karena melampaui batas.
Sementara Lemuria—dalam tafsir kultural—kerap digambarkan sebagai peradaban yang lebih spiritual, menyatu dengan alam, dan tidak meninggalkan monumen raksasa karena tidak terobsesi pada penaklukan.
Kesundaan, jika dibaca dengan jujur, lebih dekat pada narasi Lemurian ketimbang Atlantis. Bukan karena klaim darah atau leluhur agung, melainkan karena nilai-nilai yang diwariskan: kesederhanaan, kehati-hatian, dan penghormatan pada tatanan semesta.
Orang Sunda diajarkan ulah unggut kalinduan, ulah gedé hulu—jangan rakus, jangan besar kepala. Nilai yang justru absen dalam kisah runtuhnya Atlantis.
Masalahnya, wacana Lemuria dan Atlantis sering disalahgunakan. Ia berubah menjadi alat glorifikasi, bahkan klaim kebenaran tunggal yang ahistoris.
Padahal, jika kesundaan benar-benar berakar pada kebijaksanaan leluhur, maka sikap rendah hati seharusnya menjadi ciri utama. Bukan merasa paling tua, paling asli, atau paling unggul.
Justru yang penting hari ini bukan membuktikan apakah Lemuria atau Atlantis benar-benar ada, melainkan membaca pesan moral dari narasi tersebut.
Bahwa peradaban sebesar apa pun bisa hilang jika melupakan keseimbangan. Bahwa kemajuan tanpa kebijaksanaan hanya mempercepat kehancuran.
Dan bahwa budaya yang bertahan lama bukanlah yang paling megah, tetapi yang paling mampu beradaptasi dan menghormati alam.
Kesundaan hari ini diuji bukan oleh mitos masa lalu, tetapi oleh praktik masa kini: bagaimana kita memperlakukan tanah, air, hutan, dan sesama manusia.
Jika nilai-nilai kesundaan hanya berhenti pada romantisme Lemurian, maka ia kehilangan makna. Tetapi jika ia hidup dalam tindakan—dalam cara kita membangun, mengambil, dan berbagi—maka ia tetap relevan, bahkan di tengah dunia modern.
Pada akhirnya, Lemuria dan Atlantis adalah cermin. Kesundaan adalah pilihan. Apakah kita ingin mengulang kisah peradaban yang tenggelam oleh kesombongan, atau menjaga warisan kebijaksanaan yang membuat manusia tetap selaras dengan semesta. (*)