• 20 Mar, 2026

Kembali ke Fitrah, Menjaga Nurani Sosial

Kembali ke Fitrah, Menjaga Nurani Sosial

Refleksi Idulfitri 1447 H dari Deden Sopian, S.HI.

Mediamassa.id — Idulfitri selalu menghadirkan ruang hening di tengah riuh kehidupan. Ia bukan sekadar penanda berakhirnya Ramadan, tetapi juga panggilan untuk kembali—kepada fitrah, kepada kejujuran, dan kepada nurani yang kerap terabaikan dalam keseharian.

Bagi Deden Sopian, S.HI., Idulfitri adalah momentum untuk menata ulang hubungan manusia—baik dengan Tuhan, dengan sesama, maupun dengan realitas sosial yang terus bergerak dan berubah.

Menurutnya, Ramadan telah mengajarkan lebih dari sekadar menahan lapar dan dahaga. Ia adalah latihan spiritual yang membentuk kepekaan: terhadap ketidakadilan, terhadap kesenjangan, dan terhadap penderitaan orang lain yang sering kali luput dari perhatian.

“Idulfitri seharusnya tidak berhenti pada seremoni saling memaafkan. Ia harus menjadi titik awal untuk menghadirkan kepedulian yang lebih nyata dalam kehidupan sosial kita,” ujarnya.

Ia menyoroti bahwa dalam dinamika masyarakat hari ini, sering kali nilai-nilai kemanusiaan tergeser oleh kepentingan pragmatis—baik dalam ruang ekonomi, politik, maupun relasi sosial. Dalam konteks ini, Idulfitri menjadi sangat relevan sebagai momen untuk mengoreksi arah.

Deden Sopian menegaskan bahwa kembali ke fitrah juga berarti kembali kepada keberpihakan—berpihak pada kebenaran, pada keadilan, dan pada mereka yang lemah.

“Fitrah manusia adalah kebaikan. Maka ketika kita kembali ke fitrah, kita juga seharusnya kembali kepada keberanian untuk membela yang benar, bukan sekadar menjadi penonton,” tambahnya.

Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga integritas dalam setiap peran yang dijalani. Baginya, kejujuran bukan hanya nilai moral, tetapi fondasi utama dalam membangun kepercayaan—baik dalam kehidupan pribadi maupun dalam kehidupan bermasyarakat.

Di tengah berbagai tantangan zaman, mulai dari tekanan ekonomi hingga polarisasi sosial, semangat Idulfitri diharapkan mampu menjadi energi untuk memperkuat solidaritas. Bukan solidaritas yang semu, tetapi yang hadir dalam tindakan nyata—saling membantu, saling menjaga, dan saling menguatkan.

Menutup refleksinya, Deden Sopian mengajak semua pihak untuk tidak menjadikan Idulfitri sebagai akhir dari proses spiritual, melainkan sebagai awal dari perjalanan baru yang lebih bermakna.

“Semoga kita tidak hanya kembali suci, tetapi juga kembali peduli. Tidak hanya bersih secara diri, tetapi juga berani menghadirkan kebaikan dalam kehidupan sosial,” pungkasnya. (*

Reinhold Christiansen

Queen in a pleased tone. 'Pray don't trouble yourself to say to itself in a melancholy air, and.