• 20 Mar, 2026

Menata Ulang Arah, Menjaga Kebersamaan

Menata Ulang Arah, Menjaga Kebersamaan

Refleksi Idulfitri 1447 H dari Kadishub Garut Drs. Satriabudi, M.Si

Mediamassa.id — Idulfitri bukan sekadar perayaan berakhirnya Ramadan, tetapi momentum untuk kembali menata arah kehidupan—baik sebagai individu maupun sebagai bagian dari masyarakat yang lebih luas.

Dalam refleksi Idulfitri 1447 H, Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Garut, Drs. Satriabudi, M.Si, mengajak seluruh masyarakat untuk menjadikan hari kemenangan ini sebagai titik balik dalam membangun kesadaran kolektif akan pentingnya ketertiban, kepedulian, dan kebersamaan.

Menurutnya, Ramadan telah melatih setiap insan untuk lebih sabar, disiplin, dan mampu mengendalikan diri. Nilai-nilai inilah yang semestinya tidak berhenti seiring berlalunya bulan suci, tetapi justru menjadi fondasi dalam menjalani aktivitas sehari-hari, termasuk dalam berlalu lintas dan menggunakan fasilitas publik.

“Ketertiban di jalan raya sejatinya adalah cerminan dari ketertiban dalam diri. Jika kita mampu menahan diri selama Ramadan, maka semestinya kita juga mampu menahan ego saat berkendara—tidak saling mendahului secara sembarangan, tidak melanggar aturan, dan lebih mengedepankan keselamatan,” ungkapnya.

Ia menekankan bahwa dinamika mobilitas masyarakat, terutama pada momentum mudik dan arus balik Idulfitri, merupakan ujian nyata bagi kedisiplinan bersama. Lonjakan aktivitas transportasi sering kali memicu kepadatan, bahkan potensi kecelakaan, jika tidak diimbangi dengan kesadaran kolektif.

Dalam konteks ini, Dinas Perhubungan tidak hanya berperan sebagai regulator, tetapi juga sebagai penggerak kesadaran publik. Upaya pengaturan lalu lintas, pengawasan angkutan, hingga koordinasi lintas sektor menjadi bagian dari ikhtiar menjaga keselamatan masyarakat.

Namun lebih dari itu, Satriabudi menegaskan bahwa keberhasilan menciptakan lalu lintas yang aman dan tertib tidak bisa hanya bergantung pada aparat. Diperlukan partisipasi aktif dari seluruh lapisan masyarakat.

“Idulfitri adalah momentum saling memaafkan. Dalam konteks kehidupan sosial, ini juga berarti kita belajar untuk lebih menghargai orang lain, termasuk di jalan. Memberi jalan, menghormati pengguna lain, dan mematuhi aturan adalah bagian dari akhlak yang harus terus kita jaga,” tambahnya.

Ia juga mengajak masyarakat Garut untuk menjadikan Idulfitri sebagai awal dari komitmen baru dalam membangun budaya tertib berlalu lintas. Budaya ini, menurutnya, bukan hanya soal aturan, tetapi juga tentang nilai kemanusiaan—bagaimana kita menjaga keselamatan diri sendiri dan orang lain.

Di tengah berbagai dinamika yang dihadapi, baik dari sisi infrastruktur, pertumbuhan kendaraan, maupun perubahan perilaku masyarakat, semangat Idulfitri diharapkan mampu menjadi energi positif untuk terus berbenah.

Menutup refleksinya, Satriabudi berharap agar Idulfitri tahun ini tidak hanya menjadi perayaan seremonial, tetapi juga momentum transformasi—dari individu yang lebih baik menuju masyarakat yang lebih tertib, aman, dan berkeadaban.

“Semoga kita semua kembali dalam keadaan fitri, tidak hanya secara spiritual, tetapi juga dalam sikap dan perilaku sosial kita sehari-hari,” pungkasnya. (*

Wilbert Quigley

King, with an important air, 'are you all ready? This is the same height as herself; and when she.