• 20 Mar, 2026

Menempa Tubuh, Menjernihkan Jiwa

Menempa Tubuh, Menjernihkan Jiwa

Refleksi Idulfitri 1447 H PBFI Jawa Barat

Mediamassa.id - Di balik gemerlap panggung kompetisi dan kerasnya latihan fisik, ada satu hal yang kerap luput dari sorotan: perjalanan sunyi para insan olahraga dalam menempa diri—bukan hanya tubuh, tetapi juga jiwa. Ramadan tahun ini menjadi ruang kontemplasi itu, termasuk bagi keluarga besar Persatuan Binaraga Fitness Indonesia (PBFI) Jawa Barat.

Ketua PBFI Jawa Barat, Benny Ciptawidjaya, menyebut Ramadan sebagai “fase cutting” bagi jiwa. Jika dalam dunia binaraga cutting adalah proses mengurangi lemak untuk memperjelas definisi otot, maka dalam kehidupan, Ramadan adalah momentum untuk menanggalkan ego, keserakahan, dan hal-hal yang mengaburkan nilai kemanusiaan.

“Latihan fisik membentuk kekuatan, tapi Ramadan membentuk kesadaran. Keduanya tidak bisa dipisahkan,” ujarnya.

Di tengah dinamika zaman—ketidakpastian ekonomi, tekanan sosial, hingga perubahan gaya hidup—para atlet dan penggiat fitness dihadapkan pada tantangan yang tidak ringan. Disiplin yang selama ini dibangun di ruang-ruang gym diuji oleh ritme ibadah, perubahan pola makan, dan kebutuhan untuk menjaga keseimbangan antara performa dan spiritualitas.

Namun justru di situlah letak maknanya.

Sekretaris PBFI Jawa Barat, H. Ferry Slamet, S.Pd, melihat Ramadan sebagai momentum untuk mengembalikan orientasi hidup. Bahwa tubuh yang kuat tidak boleh berdiri sendiri tanpa diiringi hati yang bersih dan pikiran yang jernih.

“Idulfitri bukan sekadar perayaan, tetapi titik balik. Kita kembali ke fitrah—bukan hanya secara spiritual, tapi juga dalam cara kita memandang hidup dan sesama,” ungkapnya.

Bagi PBFI Jawa Barat, nilai-nilai yang tumbuh selama Ramadan sejalan dengan filosofi olahraga itu sendiri: konsistensi, kesabaran, dan integritas. Seorang atlet tidak dibentuk dalam satu hari. Ia adalah hasil dari proses panjang, penuh disiplin dan pengorbanan. Begitu pula manusia, tidak selesai hanya dengan satu bulan ibadah, tetapi harus terus dilatih dalam kehidupan sehari-hari.

Di berbagai daerah di Jawa Barat, komunitas fitness tetap bergerak selama Ramadan. Latihan mungkin bergeser waktu, intensitas mungkin disesuaikan, tetapi semangat untuk menjaga kesehatan dan kebugaran tetap menyala. Bahkan, beberapa komunitas menjadikan Ramadan sebagai momentum berbagi—melalui kegiatan sosial, santunan, hingga edukasi hidup sehat bagi masyarakat.

Ini menunjukkan bahwa olahraga bukan sekadar tentang kompetisi, tetapi juga kontribusi.

Idulfitri 1447 H pun datang sebagai penutup sekaligus awal baru. Seperti halnya tubuh yang telah melalui fase latihan panjang, jiwa yang ditempa selama Ramadan diharapkan menjadi lebih kuat, lebih bersih, dan lebih siap menghadapi tantangan ke depan.

Benny Ciptawidjaya mengajak seluruh insan olahraga, khususnya di Jawa Barat, untuk tidak berhenti pada capaian fisik semata. “Mari kita jadikan olahraga sebagai jalan untuk membangun manusia seutuhnya—yang sehat raganya, kuat mentalnya, dan luhur akhlaknya,” pesannya.

Senada, H. Ferry Slamet menegaskan bahwa semangat Idulfitri harus terus hidup setelah Ramadan usai. “Jangan hanya disiplin saat puasa. Jadikan itu kebiasaan. Karena sejatinya, hidup ini adalah latihan panjang tanpa jeda.”

Di tengah dunia yang terus bergerak cepat, refleksi ini menjadi penting. Bahwa kekuatan sejati tidak hanya diukur dari otot yang tampak, tetapi dari ketahanan hati dalam menghadapi kehidupan.

Dan mungkin, di situlah makna “fitri” yang sesungguhnya: kembali menjadi manusia yang utuh—kuat, bersih, dan penuh kepedulian. (*)

Dakota Dare

Alice could not help thinking there MUST be more to be otherwise than what it meant till now.' 'If.